by: Wira Triasmara
“Sebenarnya, Tuhan itu ada berapa?”
“Hanya satu.”
“Lalu kenapa Tuhan kita berbeda?”
“Begini, namaku Wira, keluargaku memanggilku ade, teman-teman memanggil namaku, dan kamu memanggilku sayang. Kalian semua tetap tau jika aku hanya ada satu. Begitu juga dengan Tuhan, walau panggilannya berbeda Dia hanya ada satu.
Aku sadar walaupun aku mampu memberi penjelasan yang mudah namun tetap saja perbedaan agama dan cinta adalah hal yang rumit.
Tidakkah aneh jika Tuhan menciptakan hambaNya secara berpasangan namun tiba-tiba harus dipisahkan dengan alasan agama.”
“Kenapa kamu mencintaiku, sedangkan kamu tau perbedaan diantara kita.”
“Baiklah akan aku jelaskan padamu alasan itu.
Kita berdoa dengan cara yang berbeda, cara kita memanggil Tuhan pun berbeda, namun cara kita saling mencintai selalu sama, sepenuh hati.
Kamu yakin jika Tuhanmu benar, aku pun yakin jika Tuhanku benar, namun kita juga meyakini satu hal yang sama, kita saling mencintai.
Aku memuji Tuhanku dengan bacaan doa, kamu memuji Tuhanmu dalam nyanyian, namun ketika kita saling memuji, kita tertawa bersama.
Aku meninggalkanmu di hari Jum’at, kamu meninggalkanmu di hari Minggu, namun kita selalu tau jika kita punya 5 hari lainnya untuk kembali bersama.
Kamu menggenggam tanganmu ketika berdoa, aku membuka tanganku saat berdoa, namun ketika kita bersama aku selalu membuka tanganku untuk kau genggam.
Sekarang kamu mengerti kan? Walaupun berbeda tapi selalu terselip persamaan diantaranya, itulah alasan aku mencintaimu. Jadi, bisakah aku hanya mencintaimu saja tanpa peduli agamamu?”
No comments:
Post a Comment