Perempuan Angin

Perempuan Angin

April 8, 2016

Mendadak Bandung

Akan tiba suatu masa ketika teman teman yang biasa diajak ngebolang akan berkurang; mungkin ada yang sibuk mempersiapkan lamaran dan resepsi pernikahan, menemani istri menanti kelahiran anak pertama, berjibaku dengan kerjaannya, merantau untuk mengumpulkan pundi pundi rupiah, atau mungkin menghabiskan waktu libur bersama keluarganya.
Dan ketika masa itu telah tiba. Jangan resah dan gelisah.
Selalu ada cara untuk orang-orang yang ingin berjalan.

19 Maret 2016 
Entah apa yang ada dipikiran Dimas a.k.a Cideuk malam itu. Kita yang sebelumnya terlibat percakapan lika liku hidup kemudian hening untuk sesaat. Tenggelam dalam isi kepala masing masing.
Dan tiba tiba cideuk nyeletuk, " Jo, makan sate maranggi yuk!"
Saya yang awalnya menolak karena baru selesai makan pun ahirnya mengiyakan, udah lama ngga menghirup udara malam puncak juga.
Tanpa babibu saya pun mengganti baju tidur, legging dan jaket parka.
Berangkatlah kita dari rumah saya sekitar pukul 10.40 malam naik motor. Melewati jalur babakan madang, tembus menelusuri gelapnya bukit pelangi dan muncul di jembatan gadog. Perjalanan ditempuh selama 2 jam, menikmati padatnya jalanan puncak diakhir pekan.
Ditengah perjalanan cideuk nyeletuk untuk lanjutin perjalanan ke Bandung, lagi lagi saya menolak dengan alasan sudah janji antar ibuk ke pasar esok paginya,
namun goyah juga dan saya mengiyakan.

20 Maret 2016
Pukul satu pagi, pemberhentian awal di Masjid Atta'awun. Kita rehat sejenak untuk menunaikan solat isya dan berkeliling area masjid. Dengan cuaca puncak yang sangat berkabut dan jarak pandang tipis sekali.

"Yakin nih kita lanjut bandung?"
"Yoi..."
Dan kita melanjutkan perjalanan menuju sate maranggi. Warung sate maranggi pun ramai dengan night food hunter, maklum saja ahir pekan.

Sate maranggi Sari Asih


Kita pesan 10 tusuk.
"Yakin cukup 10 tusuk deuk?"
" Iya dihemat duitnya buat perjalanan, lo bawa duit lagi ga jo?"
" Gue cuma bawa kurang dari 50 ribu nih, ga bawa atm. kan lo ngajaknya cuma ke maranggi"
" Yaudah jalanin aja nih pegang nih duit gua juga cuma cepe, lo yang atur semua "
" Kray...."

Nekat saja, seperti biasa.
Berbekal uang 100 ribuan kita menempuh jarak ± 90 km menuju Bandung.
Pukul setengah lima pagi kita sampai di Bandung, dihadapi dengan pertanyaan MAU KEMANA KITA??
Namanya juga perjalanan impulsif, just enjoy the road!
Kita memutuskan untuk mencari masjid, melepaskan rasa lelah dan solat subuh.
Sampailah di Masjid Raya Bandung yang terletak satu area dengan alun alun Bandung. 
Hamparan luas rumput sintetis di alun alun bandung itu pun menggiurkan tubuh untuk rebahan melepaskan kantuk.
Tak mau terlena berlama lama di alun alun, setelah solat subuh, berfoto foto dan beristirahat . Kita pergi mengikuti arah GPS bergerak.



Tata kota Bandung yang sekarang ini memang menyenangkan untuk dinikmati, dari atribut atribut seni di pinggir jalan, jalur pedestrian yang nyaman untuk pejalan kaki, taman taman tematik di beberapa sudut kota, fasilitas umum yang nyaman untuk penggunanya. Ah Bandung juaranya nih!
Buta arah, hanya modal GPS dan ponsel kita mati. 
Ahirnya kita mencari Indomaret di daerah Braga untuk charging ponsel. Satu gelas hot chocolate cukup membantu kita untuk rileks sejenak, sambil menunggu mencharger ponsel. 
Jalanan braga pagi itu ramai oleh peserta event lari. 
Daaaaaaan masih dihadapkan dengan pertanyaan, MAU KEMANA KITA?
" Langsung pulang Bogor nih jo? Ayok aja, daripada bingung mau kemana. Buluk gabisa dihubungin juga. Lo ada temen yang bisa dirusuhin ngga?"
" Ada, udah gue hubungin belom ada balesan. Belom pada bangun kali jam segini. Yakin langsung pulang? sayang juga udah di bandung, car free day-an yuk terus ngopi baru pulang"
" Naik BANDROOOS yuk jo" teriak cideuk sumer sumer.
seketika tukang bandros lewat dan berhenti.
Jajan bandros juga ahirnya, padahal ga niat beli tapi abangnya udah berhenti duluan denger cideuk teriak Bandros. Kata abang bandrosnya, bus bandros udah ga beroperasi, kurang tau alasannya kenapa.
"Harusnya pak ridwan kamil ngasih royalti ke saya nih.." oceh abang bandros.
"Kenapa bang?"
"Soalnya pakai nama bandros buat bus wisatanya" sambil ngelirik kue bandrosnya.
".............................................................................................................................. hahahahaha"

Mesin Parkir di Jalan Braga
Setelah gugling, kita memutuskan untuk ke Taman Hutan Raya Djuanda. Bermodal tanya orang orang setiap ragu ambil jalan karena irit batere, paket data ponsel kita matikan. Ngelewatin jalan dago kita mampir CFD, seru yah CFD di Bandung ini semua elemen ada dan terorganisir rapih. Dari campaign, jajanan, acara musik, promo tempat wisata, diskusi terbuka, gerak jalan bareng, pegiat pegiat kampus sampai senam zumba pun ada. Dan saya tertarik untuk ikutan zumba, seruuuuuuuu bareng mojang-mojang bandung euuy!
Sudah berkeringat dan timbulah lapaaaaaaar. Kita melanjutkan perjalanan ke dago atas, di tengah perjalanan mampir untuk sarapan nasi kuning. Sepiring berdua. iya hemat beb!

Car Free Day Dago
Sarapan nasi kuning 10k.

Sesampainya di Tahura Djuanda, kawasan wisata konservasi yang lagi hits itu ramai sekali pengunjung.
Parkiran membludak sampai ke keluar area wisata.
Oh iya, ahir pekan. Pantas saja ramai sekali. 
Tiba di gerbang masuk,
" Berapa pak harga tiketnya?
" 27 ribu untuk dua orang dan motor"
" Cukup ga jo uangnya?" 
" Cukup nih"
" Buat balik kebogor?
" Hmmm.. ada kurang dari ceban nih"
" Kaga jadi ngopi deh kita"
" hahahaha yang penting masuk dulu"


Kita memilih untuk short trekking menuju goa Belanda dan Jepang. Dan berkunjung ke museum Ir. Juanda. Sejujurnya, kami berdua sangat lelah dan ngantuk sekali. Sudah lama tidak perjalanan jauh naik motor, ya terasa juga pegel pegelnya. Terahir jalan-jalan jauh naik motor ya Jogja- Semarang, tek tok hampir 24 jam.
Ya  tapi sayang juga untuk melewatkan udara segar di hutan raya gini, kita pun memotivasi diri sendiri untuk bergerak jalan lebih jauh.





Dan di tengah tengah trekking, tiba tiba ada pesan masuk,
" Gilsss udah di Bandung lagi"  dari Budokter Ayunita
Saya langsung telepon Budok, mengabari kalo kami juga dadakan ke bandung. Dia ngomel ngomel tau gitu dia ga pulang ke Jakarta dari Bandung malam sebelumnya. Sehabis budok ngoceh, saya pun mengahiri teleponnya.

" Ngantuk pengen ngopi deuk, air minum tinggal 1/4 botol nih, uang tinggal delapan ribuan nih" 
" Jo, kenapa lo ga minta transfer budok. Di atm gue juga sisa 0 perak"
" Oh iya siah..................."
Saya hubungi kembali Budokter, untuk minta ditransfer buat perjalanan pulang dan ngopi enak.
"DASAR YE, LO BERDUA KREZI" teriaknya.
"hahahahahaha...I LOVE YOU BUDOOOK" kita berdua cuma tawa tawa selama trekking, kalo ngga ngetawain diri sendiri yang ngetawain orang.
Berbahagialah kita bisa ngopi enak dan ngisi bensin untuk pulang.

Berlama lama di Taman Hutan Raya itu sangat menyenangkan, merileksasikan pikiran dengan udara yang segar. Cukup satu setengah jam kita trekking santai, dan berlabuh di armor kopi untuk segelas kopi susu dan kopi filter arabika.



Arabika Multi Origin atau yang disingkat Armor Kopi ini menyajikan 3 jenis pilihan minuman kopi. Ada kopi robusta, arabika dan liberika. Untuk menu minuman lainnya Black tea, Green Tea, Oolong tea dan tentunya ada cascara, teh dari ceri kopi.Konsep kedai kopi dengan desain rumah kayu ini sederhana dan unik. Punya sensasi tersendiri ngopi ditengah tengah hutan pinus dengan menikmati pemandangan alam dan udara yang segar. Hawanya yang sejuk menambah penikmat ngopi berlama lama untuk tinggal di armor kopi.




Baru juga merasani teman kita yang tinggal dibandung,namanya Yang Fathia. Kita pun bertemu secara kebetulan di Armor Kopi. Bertegur sapa, melepas rindu dan berbagi cerita. Dia menawari kita untuk mampir di Kofluck, tempatnya bekerja sebagai barista. Lain waktu kita akan mampir, tidak untuk waktu saat itu.

Sudah hampir pukul dua siang, kita pun sama sama beranjak untuk pulang. Dibekalinya kita sebungkus cireng rujak, dan dua potong pisang goreng untuk bekal dijalan, dan kita pamit pulang.



Motor Cideuk melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalanan bandung yang padat karena arus balik kendaraan yang akan pulang ke ibukota. Sampai di Cimahi kami mampir bengkel, untuk mengisi ulang gas nitrogen. Kemudian dilanjutkan perjalanan ke arah Cianjur, kemudian puncak. Sampainya di megamendung hujan deras sekali, kita melipir untuk menggunakan jas hujan dan melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah.

Pit stop.
Minggu malam, pukul 08.00, saya ahirnya tiba di rumah.
Perjalanan yang entah tujuannya apa, tapi bagi saya perjalanan itu lebih tentang apa yang saya alami dan rasa sepanjang perjalannya. Bukan harus tentang tujuan.
Setidaknya bisa mengistirahatkan sejenak isi kepala yang riuh seperti pasar malam. 

Sampai jumpa lagi, Bandung!