Perempuan Angin

Perempuan Angin

January 8, 2019

time is ticking.

" What are u working on?
seems so happy all the time. " 

We all want to be happy, but sometimes we hold ourselves back from that possibility. It can be sad, but liberating truth. We all have that voice inside our head and sometimes we listen even we know shouldn't.

Time is ticking.
Hours, Days, months, years will pass.
Life will leave you behind it doesn't care.

April 8, 2016

Mendadak Bandung

Akan tiba suatu masa ketika teman teman yang biasa diajak ngebolang akan berkurang; mungkin ada yang sibuk mempersiapkan lamaran dan resepsi pernikahan, menemani istri menanti kelahiran anak pertama, berjibaku dengan kerjaannya, merantau untuk mengumpulkan pundi pundi rupiah, atau mungkin menghabiskan waktu libur bersama keluarganya.
Dan ketika masa itu telah tiba. Jangan resah dan gelisah.
Selalu ada cara untuk orang-orang yang ingin berjalan.

19 Maret 2016 
Entah apa yang ada dipikiran Dimas a.k.a Cideuk malam itu. Kita yang sebelumnya terlibat percakapan lika liku hidup kemudian hening untuk sesaat. Tenggelam dalam isi kepala masing masing.
Dan tiba tiba cideuk nyeletuk, " Jo, makan sate maranggi yuk!"
Saya yang awalnya menolak karena baru selesai makan pun ahirnya mengiyakan, udah lama ngga menghirup udara malam puncak juga.
Tanpa babibu saya pun mengganti baju tidur, legging dan jaket parka.
Berangkatlah kita dari rumah saya sekitar pukul 10.40 malam naik motor. Melewati jalur babakan madang, tembus menelusuri gelapnya bukit pelangi dan muncul di jembatan gadog. Perjalanan ditempuh selama 2 jam, menikmati padatnya jalanan puncak diakhir pekan.
Ditengah perjalanan cideuk nyeletuk untuk lanjutin perjalanan ke Bandung, lagi lagi saya menolak dengan alasan sudah janji antar ibuk ke pasar esok paginya,
namun goyah juga dan saya mengiyakan.

20 Maret 2016
Pukul satu pagi, pemberhentian awal di Masjid Atta'awun. Kita rehat sejenak untuk menunaikan solat isya dan berkeliling area masjid. Dengan cuaca puncak yang sangat berkabut dan jarak pandang tipis sekali.

"Yakin nih kita lanjut bandung?"
"Yoi..."
Dan kita melanjutkan perjalanan menuju sate maranggi. Warung sate maranggi pun ramai dengan night food hunter, maklum saja ahir pekan.

Sate maranggi Sari Asih


Kita pesan 10 tusuk.
"Yakin cukup 10 tusuk deuk?"
" Iya dihemat duitnya buat perjalanan, lo bawa duit lagi ga jo?"
" Gue cuma bawa kurang dari 50 ribu nih, ga bawa atm. kan lo ngajaknya cuma ke maranggi"
" Yaudah jalanin aja nih pegang nih duit gua juga cuma cepe, lo yang atur semua "
" Kray...."

Nekat saja, seperti biasa.
Berbekal uang 100 ribuan kita menempuh jarak ± 90 km menuju Bandung.
Pukul setengah lima pagi kita sampai di Bandung, dihadapi dengan pertanyaan MAU KEMANA KITA??
Namanya juga perjalanan impulsif, just enjoy the road!
Kita memutuskan untuk mencari masjid, melepaskan rasa lelah dan solat subuh.
Sampailah di Masjid Raya Bandung yang terletak satu area dengan alun alun Bandung. 
Hamparan luas rumput sintetis di alun alun bandung itu pun menggiurkan tubuh untuk rebahan melepaskan kantuk.
Tak mau terlena berlama lama di alun alun, setelah solat subuh, berfoto foto dan beristirahat . Kita pergi mengikuti arah GPS bergerak.



Tata kota Bandung yang sekarang ini memang menyenangkan untuk dinikmati, dari atribut atribut seni di pinggir jalan, jalur pedestrian yang nyaman untuk pejalan kaki, taman taman tematik di beberapa sudut kota, fasilitas umum yang nyaman untuk penggunanya. Ah Bandung juaranya nih!
Buta arah, hanya modal GPS dan ponsel kita mati. 
Ahirnya kita mencari Indomaret di daerah Braga untuk charging ponsel. Satu gelas hot chocolate cukup membantu kita untuk rileks sejenak, sambil menunggu mencharger ponsel. 
Jalanan braga pagi itu ramai oleh peserta event lari. 
Daaaaaaan masih dihadapkan dengan pertanyaan, MAU KEMANA KITA?
" Langsung pulang Bogor nih jo? Ayok aja, daripada bingung mau kemana. Buluk gabisa dihubungin juga. Lo ada temen yang bisa dirusuhin ngga?"
" Ada, udah gue hubungin belom ada balesan. Belom pada bangun kali jam segini. Yakin langsung pulang? sayang juga udah di bandung, car free day-an yuk terus ngopi baru pulang"
" Naik BANDROOOS yuk jo" teriak cideuk sumer sumer.
seketika tukang bandros lewat dan berhenti.
Jajan bandros juga ahirnya, padahal ga niat beli tapi abangnya udah berhenti duluan denger cideuk teriak Bandros. Kata abang bandrosnya, bus bandros udah ga beroperasi, kurang tau alasannya kenapa.
"Harusnya pak ridwan kamil ngasih royalti ke saya nih.." oceh abang bandros.
"Kenapa bang?"
"Soalnya pakai nama bandros buat bus wisatanya" sambil ngelirik kue bandrosnya.
".............................................................................................................................. hahahahaha"

Mesin Parkir di Jalan Braga
Setelah gugling, kita memutuskan untuk ke Taman Hutan Raya Djuanda. Bermodal tanya orang orang setiap ragu ambil jalan karena irit batere, paket data ponsel kita matikan. Ngelewatin jalan dago kita mampir CFD, seru yah CFD di Bandung ini semua elemen ada dan terorganisir rapih. Dari campaign, jajanan, acara musik, promo tempat wisata, diskusi terbuka, gerak jalan bareng, pegiat pegiat kampus sampai senam zumba pun ada. Dan saya tertarik untuk ikutan zumba, seruuuuuuuu bareng mojang-mojang bandung euuy!
Sudah berkeringat dan timbulah lapaaaaaaar. Kita melanjutkan perjalanan ke dago atas, di tengah perjalanan mampir untuk sarapan nasi kuning. Sepiring berdua. iya hemat beb!

Car Free Day Dago
Sarapan nasi kuning 10k.

Sesampainya di Tahura Djuanda, kawasan wisata konservasi yang lagi hits itu ramai sekali pengunjung.
Parkiran membludak sampai ke keluar area wisata.
Oh iya, ahir pekan. Pantas saja ramai sekali. 
Tiba di gerbang masuk,
" Berapa pak harga tiketnya?
" 27 ribu untuk dua orang dan motor"
" Cukup ga jo uangnya?" 
" Cukup nih"
" Buat balik kebogor?
" Hmmm.. ada kurang dari ceban nih"
" Kaga jadi ngopi deh kita"
" hahahaha yang penting masuk dulu"


Kita memilih untuk short trekking menuju goa Belanda dan Jepang. Dan berkunjung ke museum Ir. Juanda. Sejujurnya, kami berdua sangat lelah dan ngantuk sekali. Sudah lama tidak perjalanan jauh naik motor, ya terasa juga pegel pegelnya. Terahir jalan-jalan jauh naik motor ya Jogja- Semarang, tek tok hampir 24 jam.
Ya  tapi sayang juga untuk melewatkan udara segar di hutan raya gini, kita pun memotivasi diri sendiri untuk bergerak jalan lebih jauh.





Dan di tengah tengah trekking, tiba tiba ada pesan masuk,
" Gilsss udah di Bandung lagi"  dari Budokter Ayunita
Saya langsung telepon Budok, mengabari kalo kami juga dadakan ke bandung. Dia ngomel ngomel tau gitu dia ga pulang ke Jakarta dari Bandung malam sebelumnya. Sehabis budok ngoceh, saya pun mengahiri teleponnya.

" Ngantuk pengen ngopi deuk, air minum tinggal 1/4 botol nih, uang tinggal delapan ribuan nih" 
" Jo, kenapa lo ga minta transfer budok. Di atm gue juga sisa 0 perak"
" Oh iya siah..................."
Saya hubungi kembali Budokter, untuk minta ditransfer buat perjalanan pulang dan ngopi enak.
"DASAR YE, LO BERDUA KREZI" teriaknya.
"hahahahahaha...I LOVE YOU BUDOOOK" kita berdua cuma tawa tawa selama trekking, kalo ngga ngetawain diri sendiri yang ngetawain orang.
Berbahagialah kita bisa ngopi enak dan ngisi bensin untuk pulang.

Berlama lama di Taman Hutan Raya itu sangat menyenangkan, merileksasikan pikiran dengan udara yang segar. Cukup satu setengah jam kita trekking santai, dan berlabuh di armor kopi untuk segelas kopi susu dan kopi filter arabika.



Arabika Multi Origin atau yang disingkat Armor Kopi ini menyajikan 3 jenis pilihan minuman kopi. Ada kopi robusta, arabika dan liberika. Untuk menu minuman lainnya Black tea, Green Tea, Oolong tea dan tentunya ada cascara, teh dari ceri kopi.Konsep kedai kopi dengan desain rumah kayu ini sederhana dan unik. Punya sensasi tersendiri ngopi ditengah tengah hutan pinus dengan menikmati pemandangan alam dan udara yang segar. Hawanya yang sejuk menambah penikmat ngopi berlama lama untuk tinggal di armor kopi.




Baru juga merasani teman kita yang tinggal dibandung,namanya Yang Fathia. Kita pun bertemu secara kebetulan di Armor Kopi. Bertegur sapa, melepas rindu dan berbagi cerita. Dia menawari kita untuk mampir di Kofluck, tempatnya bekerja sebagai barista. Lain waktu kita akan mampir, tidak untuk waktu saat itu.

Sudah hampir pukul dua siang, kita pun sama sama beranjak untuk pulang. Dibekalinya kita sebungkus cireng rujak, dan dua potong pisang goreng untuk bekal dijalan, dan kita pamit pulang.



Motor Cideuk melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalanan bandung yang padat karena arus balik kendaraan yang akan pulang ke ibukota. Sampai di Cimahi kami mampir bengkel, untuk mengisi ulang gas nitrogen. Kemudian dilanjutkan perjalanan ke arah Cianjur, kemudian puncak. Sampainya di megamendung hujan deras sekali, kita melipir untuk menggunakan jas hujan dan melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah.

Pit stop.
Minggu malam, pukul 08.00, saya ahirnya tiba di rumah.
Perjalanan yang entah tujuannya apa, tapi bagi saya perjalanan itu lebih tentang apa yang saya alami dan rasa sepanjang perjalannya. Bukan harus tentang tujuan.
Setidaknya bisa mengistirahatkan sejenak isi kepala yang riuh seperti pasar malam. 

Sampai jumpa lagi, Bandung!




March 10, 2016

a fear.

Have you ever heard this quotes," If you never try you'll never know"
I ensure you have.

Sometimes we are afraid to take a step in front of us, we don't know what will happen next, we are afraid it will make us happy or not, we think that doesn't run it well. We are afraid of unclear way, we are afraid of uncertainty and to leave out from comfort life.
But, we really never know until we have to try. Right?

In a moment, i have trying jump above around 10 meters. I tried because there is a fear of heights on my mind. One step before jump my heart beating faster than before, i was stuck standing cool for a long time at the top. No one can push my fear inside, if not mine.
It cannot be changed until i let go of fear itself from my mind.
Then, i jump.
my hand stuck in the sling rope, it hurts.
but i can throw the fear inside, it was lavish feeling.
what i feel after jump?
i desirous for jumping back, to get back my pleasent feeling.

trying random act that i never been try and thought that it cannot happens always made me excited, made me alive to thru good life, to discharge my endorphine.
I am grateful, and still learning to release my fear inside.
a fear of losing,
a feeling.



February 29, 2016

utuh.

apa manusia bisa terlihat utuh, cukup, bahagia, tanpa ada tawa?
mereka yang tanpa tawa bukan berarti hidup tanpa nasib baik.
mereka hanya lebih tau bagaimana caranya untuk bersyukur.

jangan pikir mereka yang tanpa tawa adalah manusia yang tak bahagia.
mereka tau bagaimana menjadi manusia yang utuh dan cukup.

apa manusia bisa terlihat bahagia, tanpa ada masalah, yang bingar dengan tawa?
mereka yang selalu tertawa bukan berarti hidup tanpa nasib buruk.
mereka hanya lebih tahu bagaimana caranya menikmati hidup.

jangan pikir mereka yang selalu tertawa adalah manusia tanpa problema.
mereka punya cara tersendiri tuk menjaga kalau tak perlu semua orang tau problemanya.

Kamu yang mana?



January 16, 2016

a thought

I am wild.
Dirty feet, i run barefoot through woods and rainforests. Open fields and secret water streams.
Alone with the sound of my breathing and the wind roaring in my ears.

I am wild.
Knotted hair, brushing gently across my face, it dances in the wind and rain.
Twigs, leaves and flowers hitch rides across the country side.

I am wild.
The stars call out to me, a part of me is out there. My essence, my purpose, my divine connection.
An infinite sky, forever changing, flowing, being, stillness.
Solitude, icy hands and a smokey breath. Let my bones charge in the morning sun light.
Always alone, but i will be free anyway and alive.

I am wild, Tribe of Gaia.

I feel others' feeling as if they were my own. Their pain, their joy, their way. In the end, only time will answer everything. We'll just end up with peace, happiness, pain or regret.
Time provides you and you decide.
Please, don't try fix me as you desire. The way is beautiful to me. I could see that is possible and all that I thru. Whilst other see all that is right and wrong and the reason why.
Please don't try to fix me. I could see..


Jakarta, 17.10

January 15, 2016

Pulang


Yogyakarta, 23 Oktober 2015
Semua hal dalam hidup akan berubah pada waktunya. Perubahan diseimbangkan oleh waktu itu sendiri. Aku sudah lama tidak menulis dan membaca buku. Rasanya seperti patah hati karena terpisah dari inspirasi. Tumpukan buku-buku baru yang kubeli sejak setahun belakang ini pun sebagian rusak, oleh rayap dan belum terbaca. Karena lama aku tinggal.

Lalu karena alasan begitu, aku mencari-cari inspirasi. Sibuk mencari hal yang tak dapat diraba. Aku memilih cara mencari dengan berpetualang, berjalan lebih jauh. Ya, bergerak mencari hal-hal yang hilang dalam diri.

Pernah suatu waktu di belahan Pulau Dewata, masih pada sebuah petualangan mencari. Karena sudah satu bulan lamanya aku berjalan jauh sampai merasa aku ingin pulang. Fisik ini ingin tetap tinggal melangkah lebih jauh, tidak untuk jiwanya.
Namun, itu tadi. Pulang kemana?
Aku ingin mengubah suasana hati. Ingin mendamaikan diri sendiri. Benar-benar hidup menikmati waktu yang tak pernah bersedia tetap tinggal.



Jogja, jogja, jogja.
Kota yang menjadi rumah bagi banyak rindu, dan juga kepulangan.
Selalu ada yang memanggil untuk kembali pulang.

Pada suatu senja, saat hati ini ingin pulang sekali aku bergegas ke stasiun di tengah kota untuk membeli langsung tiket tujuan kota pelajar, membelah jalanan ibu kota dengan hiruk pikuknya kemacetan.
Entah keberuntungan atau apapun itu. Saat itu aku masih dalam antrian loket dan kereta yang mau aku tumpangi akan berangkat 10 menit kemudian. Sampai pada giliranku, dan ternyata masih ada jatah kursi dan waktu untukku berlari sampai ke peron.
Aku berlari, dengan beban isi ranselku dan koper seorang ibu yang mulai menua.
Ibu itu sungkan kopernya kubawakan, dia memanggil seorang portir.
"Tak usah bu, biar saya saja yang bawakan. Ibu lebih baik jalan cepat, keretanya sudah mau berangkat bu" sautku. 
Sampai berdiri depan pintu gerbong, selangkah lagi masuk kereta itu berjalan dan diberhentikan dengan bunyi peluit petugas kereta yang berjaga di depan pintu gerbong. Puji syukur.
Sampai ahirnya alas kakiku ini menginjakkan di stasiun yang tak awam lagi "Stasiun Jogjakarta"
Selalu ada energi positif tersendiri saat menghirup udara pagi kota yang melahirkan banyak seniman itu. Aku tak berlebihan, untuk orang-orang yang pernah merantau lama di Jogja pasti mengiyakan hal yang sama.

Ah, sudah sudah.
Aku memang selalu menikmati segala kejutan dalam perjalanan panjangku. Kunikmati dan kubawa pulang untuk kelak diceritakan. 
Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Karena rumah untuk semua kepulangan adalah diri sendiri. Ya, aku masih belajar merangkak untuk berdamai dengan diri sendiri. Agar tau, kapan dan kemana akan pulang.

Lalu aku rindu menulis lagi. Baru sempat menulis lagi.
Aku yang disibukkan dengan masa kini.
Waktu mengirimkan rasa ini untuk aku menulis lagi. Menuliskan perjalanan dan kepulangan rasa selama berjalan jauh.
Entah, mungkin menulis jugalah yang akan mengembalikanku kepada petualangan lain,
petualangan merealisasikan mimpi.
Semoga.


Jakarta, 04.45

June 16, 2013

Cahaya Bulan

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang
disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
kenapa matahari terbit menghangatkan bumi
aku orang malam yang membicarakan terang
aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang
perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya
disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi
aku orang malam yang membicarakan terang
aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang

cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yang takkan pernah aku tau
dimana jawaban itu
bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi
sudah waktunya berdiri
mencari jawaban kegelisahan hati

terangi dengan cinta di gelapku
ketakutan melumpuhkanku
terangi dengan cinta disesatku
dimana jawaban itu

April 9, 2013

Dua Malam di Gunung Papandayan

Sekilas Tentang Gunung Papandayan
Gunung Papandayan merupakan gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Kecamatan Cisurupan, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2665 ini memiliki komplek kawah yang aktif dan mengeluarkan asap belerang. Keindahan komplek kawahnya, hutan mati, pondok salada, tebing curam & tinggi, tegal alun tak kan ada habisnya.
Untuk menuju gunung papandayan dapat menggunakan bus langsung dari Kp. Rambutan menuju Terminal Guntur dengan kisaran biaya 30-35 ribu/org  dan dilanjutkan naik angkutan umum ke pertigaan Cisurupan 6rb. Selanjutnya naik ojek (20-25ribu) atau dengan mobil terbuka 15rb/org sampai pintu masuk.

Hutan Mati
22 Februari 2013
“Jadi kita berangkat cuma bertiga nih?.....” dan semesta berkata lain.
Sore yang cerah, menemani Dimas Askinding a.k.a Cidek ke pasar untuk belanja persediaan kedainya dan berbelanja kebutuhan logistik selama digunung. Tak lama menuju rumah goldy untuk repacking dan meeting point disana. Packing tak kunjung kelar rasanya, semua alat dan logistik mau dibawa, sampe kasur lipet milik nona Johar yang katanya buat leyeh leyeh saat ngecamp mau dibawain sama goldy sukses ditinggal dalam mobil, 



Carrier dan daypack sudah masuk kedalam mobil, persiapan sudah oke dan tiba tiba.
“Bang, jangan naik gunung gitu cuacanya lagi buruk …………” ujar Mama Goldy
Pikir beliau hanya kemping di tempat camp biasa gapake naik bukit dan ahirnya abang goldy pun mulai menjelaskan ke ibunya perlahan. Oke, dapet izin asal naik bareng rombongan lain atau yang sudah tau jalan. Mimik wajah goldy pun berubah seketika, bingung mengiyakan.

Ba’da maghrib. Saya, goldy, nona, dimas, jofino dan fanny pun memulai perjalanan. Diawali pemberhentian pertama di wakidi untuk mengisi perut terlebih dahulu dan fici pun melaju hingga ± 200km sampai pintu masuk utama kawasan papandayan memakan waktu 6,5 jam perjalanan. Ditengah perjalanan menuju pintu masuk, tak habisnya istighfar, jalanan rusak tengah hutan dengan bonus pemandangan kota garut yang aduhai. Muncul ketakutan ban nyelip di tengah hutan, puji syukur supir berlisensi legal Jofino bisa mengatasinya sampai area parkir.

23 Februari 2013
Tiba basecamp pukul 2.30 pagi dan pos pendakian pun tutup, kami memutuskan beristirahat sejenak menunggu sang fajar di dalam mobil dengan desiran angin yang kencang.
“Gue merem sama melek sama aja, sama sama gelap” Celetuk Jofino.
Semuanya tertawa kemudian hening, menikmati kegelapan dan memaksakan untuk tidur.

                       


Panggilan alam selalu membangunkanku lebih awal, tapi angin kencang diluar mengurungkan niatku. Beberapa pendaki pun mulai berdatangan, setelah mendaftar mereka langsung naik, sedangkan kami masih repacking kembali dan mendaftar di pos pendakian membayar uang masuk yang sukarela ditambah 20 ribu uang penitipan mobil untuk semalam, selembar 50 ribu kami keluarkan semuanya untuk 6 orang.



Usai doa sebelum perjalanan, pukul 7.25 kami pun mulai melangkahkan kaki lebih jauh menuju jalur pendakian. Baru awal perjalanan sudah disuguhkan indahnya tebing tebing curam dan bau belerang yang sangat menyengat. Jangan lupa menggunakan masker dan basahi dengan air sebelumnya. Jalur menuju pondok salada ada 2, setelah mengikuti jalur motor trail yang ada sampai di pertigaan jalur ke kiri jalur terjal untuk melewati hutan mati dan jalur landai ke kanan untuk langsung ke pondok salada.



Kami memilih kiri jalur terjal yang sebagian ditumbuhi vegetasi pohon cantigi, jalur yang menguras tenaga namun sampainya di hutan mati disuguhkan potret bencana yang melahirkan keindahan alam yang luar biasa. Tak hentinya mengucapkan subhanallah….
Setelah melepas lelah perjalanan dilanjutkan menuju pondok salada dan bergabung dengan rombongan Jakarta mengikuti arah petunjuk yang ada sampai bertemu bunga abadi dan melewati kubangan kubangan air. Tibalah di pondok salada pukul 10.30, kemudian mendirikan tenda dan mulai mengepulkan asap dapur.



Bentang Alam Hutan Mati
Sore berkabut kami nikmati untuk leyeh leyeh dalam tenda dengan suhu udara yang semakin dingin. Cuaca ekstrem saat itu mengakibatkan terjadinya angin badai dikawasan gunung papandayan. Malamnya kami berpatroli ke tenda tetangga tetangga sekedar untuk menyapa bercengkrama dan berujung bermain ABC 5 dasar sampai lelah tawa mengahiri. Gerimis menemani sampai pagi..




24 Februari 2013
“Jo, lo tidur ngigo parah kedinginan sampe menggigil pula, watir siah aing. Tau kondisi semalem lu gitu mending sekarang gausah naik ampe atas” Jopino ngoceh.
Pagi pagi jofino udah heboh nyeritain ngigonya saya malem itu, ga sadar sih tapi emang saat itu kondisi saya sedang tidak fit, flu berat bercampur sakit kepala dan memaksakan naik. Padahal jofino juga gak kalah menggigilnya malem itu sampe tremor, tidur tanpa sleeping bag. 
Kapok ya, Jop? hahaha
Seduhan kopi pertama pagi itu, manis sambil menikmati potret pagi pondok salada dan bunga abadi yang diselimuti bulir es. Dan taraaa, sedang asik mengepulkan asap dapur kita kehabisan gas. Cideuk pun langsung berburu gas ke tenda seberang, tendanya bang oji. Gerimis dan berkabutnya cuaca pagi itu ahirnya kami mengurungkan niat untuk ngetrek pagi ke tegal alun. Santai dulu lur enjoy dulu, goldy dan cideuk pun mencoba mandi pake air gunung dibalas gelengan kepala jopino yang cukup dengan tremornya semalem, pecah tawa kami.

Bunga abadi pondok salada diselimuti bulir es
Pukul 9.15 kami bergabung dengan rombongan Jakarta (dewi, bang tiar dan 2 rekannya) dan rombongan garut (bang oji, opi, fahmi) menuju tegal alun hanya membawa logistik dan peralatan yang diperlukan sisanya ditinggal dalam tenda, sempat salah jalan menuju hutan mati bukannya melipir ke kanan dari kubangan air itu.

Jofino, Fanny, Cidek, Bang Oji, Opi, Saya, Goldi, Fahmi

Naik gunung juga ngantri bung
Jalur yang basah dan lengket karena kontur tanah yang bercampur batuan kapur dan menanjak memperlambat ritme kami, sesekali angin kencang menggoyahkan badan ini. Sakit kepala dan flu berat memperparah kondisi saya, terkadang gak fokus dan kepleset beruntung ada jofino yang siap tahan tubuh saya dari belakang.
Kenapa juga gak ngikutin jalur cideuk dan bang oji yang memotong jalan, mereka sampai terlebih dahulu menunggu kita di puncak nangklak sedangkan saya dan lainnya masih mengantri untuk naik.
Pukul 11.30 sampailah di tegal alun, sejauh mata memandang bunga abadi memperlihatkan kecantikannya. Indonesia miniaturnya surga bung, sayang jika dilewatkan!


Dari Puncak Nangklak
Halo tegal alun
Panorama Tegal Alun
Tak lama kami menikmati eloknya tegal alun, pukul 13.10 kami bersiap kembali ke pondok salada. Mengikuti jalur sewaktu berangkat dan tanda yang sebelumnya telah dibuat namun bertemu kembali dengan bunga abadi, ah rupanya kita salah jalan.  
Kembali lagi menelusuri jalan sebelumnya dan kami tidak menemukan tanda yg sebelumnya telah dibuat. Ahirnya salah satu rombongan membuka jalur dan ternyata menemukan aliran sungai. Jalurnya lebih terjal batu batu besar, dan pondok salada terlihat jelas dari atas. Sampai di pondok salada pukul 14.45 beres beres tenda, dan ciwi ciwi kece nona & fanny masak untuk bekal energi pulang. Tim bang oji dari garut pamit turun duluan, sedangkan saya turun bareng rombongan bang tiar. 

Come as strangers, left as brothers
jalur air

Selalu ada cara Tuhan menegur hambanya, ditengah perjalanan turun dan hendak istirahat disungai, saya terpleset dan kepala saya terjatuh di tengah himpitan batu besar, tenggelam dalam air. Saat yang lainnya panik mencemaskan, saya bangun dan terengap engap karena tertelan air sungai sambil tertawa gelagap. HAHAHAHA dingin bro air sungainya.
.


Beratapkan langit gelap kami tiba di pos pendakian pukul 6 petang, melapor terlebih dahulu membereskan barang barang ke dalam mobil dan pamit duluan dengan tim bang tiar.
Fisik ahirnya tumbang, setelah jakpot saya memilih meminum antimo dan tertidur pulas sampai bogor.

We see you soon!
"We enter the mountain as stranger & left the mountain as brother"
Terimakasih Papandayan atas keindahan dan keelokan semestamu. Selalu ada kejutan dan cerita dibalik sebuah perjalanan. Terimakasih Fici, Goldy, Cideuk, Jofino, Nona, Fani, Bang Oji dkk, Bang Tiar dkk dan yang lainnya atas momennya. Sampai bertemu di rekam jejak perjalanan lainnya. 
“There is no end to the adventures that we can have
Little Note: "Bagi yang membawa kendaraan pribadi, sebelumnya dipersiapkan kondisi mobil yang fit dan bisa untuk jalanan rusak karena jalan dari gerbang cisurupan sampai ke pos pendakian lumayan offroad dan ektsrem. Terlebih jika melakukan perjalanan malam hari, keep safely the journey "