Sekilas Tentang Gunung
Papandayan
Gunung Papandayan
merupakan gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Kecamatan Cisurupan,
Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2665 ini memiliki komplek kawah yang aktif
dan mengeluarkan asap belerang. Keindahan komplek kawahnya, hutan mati, pondok salada, tebing curam & tinggi, tegal alun tak kan ada habisnya.
Untuk menuju gunung
papandayan dapat menggunakan bus langsung dari Kp. Rambutan menuju Terminal
Guntur dengan kisaran biaya 30-35 ribu/org dan dilanjutkan naik angkutan umum ke
pertigaan Cisurupan 6rb. Selanjutnya naik ojek (20-25ribu) atau dengan mobil
terbuka 15rb/org sampai pintu masuk.
| Hutan Mati |
22 Februari 2013
“Jadi kita berangkat cuma
bertiga nih?.....” dan semesta berkata lain.
Sore yang cerah, menemani
Dimas Askinding a.k.a Cidek ke pasar untuk belanja persediaan kedainya dan berbelanja kebutuhan logistik selama digunung. Tak lama menuju rumah goldy untuk
repacking dan meeting point disana. Packing tak kunjung kelar rasanya, semua
alat dan logistik mau dibawa, sampe kasur lipet milik nona Johar yang katanya
buat leyeh leyeh saat ngecamp mau dibawain sama goldy sukses ditinggal dalam mobil,
Carrier dan daypack
sudah masuk kedalam mobil, persiapan sudah oke dan tiba tiba.
“Bang, jangan naik
gunung gitu cuacanya lagi buruk …………” ujar Mama Goldy
Pikir beliau hanya
kemping di tempat camp biasa gapake naik bukit dan ahirnya abang goldy pun mulai
menjelaskan ke ibunya perlahan. Oke, dapet izin asal
naik bareng rombongan lain atau yang sudah tau jalan. Mimik wajah goldy pun
berubah seketika, bingung mengiyakan.
Ba’da maghrib. Saya,
goldy, nona, dimas, jofino dan fanny pun memulai perjalanan. Diawali
pemberhentian pertama di wakidi untuk mengisi perut terlebih dahulu dan fici
pun melaju hingga ± 200km sampai pintu masuk utama kawasan papandayan memakan waktu 6,5 jam perjalanan. Ditengah
perjalanan menuju pintu masuk, tak habisnya istighfar, jalanan rusak tengah
hutan dengan bonus pemandangan kota garut yang aduhai. Muncul ketakutan ban
nyelip di tengah hutan, puji syukur supir berlisensi legal Jofino bisa mengatasinya
sampai area parkir.
23 Februari 2013
Tiba basecamp pukul
2.30 pagi dan pos pendakian pun tutup, kami memutuskan beristirahat sejenak menunggu sang fajar di dalam mobil dengan desiran angin yang kencang.
“Gue merem sama melek
sama aja, sama sama gelap” Celetuk Jofino.
Semuanya tertawa
kemudian hening, menikmati kegelapan dan memaksakan untuk tidur.
Panggilan
alam selalu membangunkanku lebih awal, tapi angin kencang diluar mengurungkan
niatku. Beberapa pendaki pun mulai berdatangan, setelah mendaftar mereka
langsung naik, sedangkan kami masih repacking kembali dan mendaftar di pos
pendakian membayar uang masuk yang sukarela ditambah 20 ribu uang penitipan
mobil untuk semalam, selembar 50 ribu kami keluarkan semuanya untuk 6 orang.
Usai
doa sebelum perjalanan, pukul 7.25 kami pun mulai melangkahkan kaki lebih jauh
menuju jalur pendakian. Baru awal perjalanan sudah disuguhkan indahnya tebing
tebing curam dan bau belerang yang sangat menyengat. Jangan lupa menggunakan masker
dan basahi dengan air sebelumnya. Jalur menuju pondok salada ada 2, setelah
mengikuti jalur motor trail yang ada sampai di pertigaan jalur ke kiri jalur
terjal untuk melewati hutan mati dan jalur landai ke kanan untuk langsung ke
pondok salada.
Kami memilih
kiri jalur terjal yang sebagian ditumbuhi vegetasi pohon cantigi, jalur yang
menguras tenaga namun sampainya di hutan mati disuguhkan potret bencana yang
melahirkan keindahan alam yang luar biasa. Tak hentinya mengucapkan subhanallah….
Setelah
melepas lelah perjalanan dilanjutkan menuju pondok salada dan bergabung dengan
rombongan Jakarta mengikuti arah petunjuk yang ada sampai bertemu bunga abadi
dan melewati kubangan kubangan air. Tibalah di pondok salada pukul 10.30,
kemudian mendirikan tenda dan mulai mengepulkan asap dapur.
| Bentang Alam Hutan Mati |
24 Februari 2013
“Jo, lo tidur ngigo
parah kedinginan sampe menggigil pula, watir siah aing. Tau kondisi semalem lu
gitu mending sekarang gausah naik ampe atas” Jopino ngoceh.
Pagi pagi jofino udah
heboh nyeritain ngigonya saya malem itu, ga sadar sih tapi emang saat itu kondisi
saya sedang tidak fit, flu berat bercampur sakit kepala dan memaksakan naik. Padahal
jofino juga gak kalah menggigilnya malem itu sampe tremor, tidur tanpa sleeping bag.
Kapok ya, Jop? hahaha
Kapok ya, Jop? hahaha
Seduhan kopi pertama
pagi itu, manis sambil menikmati potret pagi pondok salada dan bunga abadi yang
diselimuti bulir es. Dan taraaa, sedang asik mengepulkan asap dapur kita kehabisan gas. Cideuk pun langsung berburu gas
ke tenda seberang, tendanya bang oji. Gerimis dan berkabutnya cuaca pagi itu ahirnya kami mengurungkan niat untuk ngetrek pagi ke tegal alun. Santai dulu lur enjoy dulu, goldy dan cideuk pun mencoba mandi pake air gunung dibalas gelengan kepala jopino yang cukup dengan tremornya semalem, pecah tawa kami.
| Bunga abadi pondok salada diselimuti bulir es |
Pukul 9.15 kami
bergabung dengan rombongan Jakarta (dewi, bang tiar dan 2 rekannya) dan
rombongan garut (bang oji, opi, fahmi) menuju tegal alun hanya membawa logistik dan
peralatan yang diperlukan sisanya ditinggal dalam tenda, sempat salah jalan menuju hutan mati bukannya melipir ke kanan dari kubangan air itu.
| Jofino, Fanny, Cidek, Bang Oji, Opi, Saya, Goldi, Fahmi |
| Naik gunung juga ngantri bung |
Jalur yang basah dan lengket karena kontur tanah yang bercampur batuan kapur dan menanjak memperlambat ritme kami, sesekali
angin kencang menggoyahkan badan ini. Sakit kepala dan flu berat memperparah
kondisi saya, terkadang gak fokus dan kepleset beruntung ada jofino yang siap
tahan tubuh saya dari belakang.
Kenapa juga gak ngikutin jalur cideuk dan bang oji yang memotong jalan, mereka sampai terlebih dahulu menunggu kita di puncak nangklak sedangkan saya dan lainnya masih mengantri untuk naik.
Kenapa juga gak ngikutin jalur cideuk dan bang oji yang memotong jalan, mereka sampai terlebih dahulu menunggu kita di puncak nangklak sedangkan saya dan lainnya masih mengantri untuk naik.
Pukul 11.30 sampailah di
tegal alun, sejauh mata memandang bunga abadi memperlihatkan kecantikannya.
Indonesia miniaturnya surga bung, sayang jika dilewatkan!
| Dari Puncak Nangklak |
| Halo tegal alun |
| Panorama Tegal Alun |
Tak lama kami menikmati
eloknya tegal alun, pukul 13.10 kami bersiap kembali ke pondok salada. Mengikuti
jalur sewaktu berangkat dan tanda yang sebelumnya telah dibuat namun bertemu
kembali dengan bunga abadi, ah rupanya kita salah jalan.
Kembali lagi menelusuri jalan sebelumnya dan kami tidak menemukan tanda yg sebelumnya telah dibuat. Ahirnya salah satu rombongan membuka jalur dan ternyata menemukan aliran sungai. Jalurnya lebih terjal batu batu besar, dan pondok salada terlihat jelas dari atas. Sampai di pondok salada pukul 14.45 beres beres tenda, dan ciwi ciwi kece nona & fanny masak untuk bekal energi pulang. Tim bang oji dari garut pamit turun duluan, sedangkan saya turun bareng rombongan bang tiar.
Kembali lagi menelusuri jalan sebelumnya dan kami tidak menemukan tanda yg sebelumnya telah dibuat. Ahirnya salah satu rombongan membuka jalur dan ternyata menemukan aliran sungai. Jalurnya lebih terjal batu batu besar, dan pondok salada terlihat jelas dari atas. Sampai di pondok salada pukul 14.45 beres beres tenda, dan ciwi ciwi kece nona & fanny masak untuk bekal energi pulang. Tim bang oji dari garut pamit turun duluan, sedangkan saya turun bareng rombongan bang tiar.
| Come as strangers, left as brothers |
| jalur air |
Selalu ada cara Tuhan menegur hambanya, ditengah perjalanan turun dan hendak
istirahat disungai, saya terpleset dan kepala saya terjatuh di tengah himpitan
batu besar, tenggelam dalam air. Saat yang lainnya panik mencemaskan, saya bangun dan terengap
engap karena tertelan air sungai sambil tertawa gelagap. HAHAHAHA dingin bro air sungainya.
.
.
Beratapkan langit gelap
kami tiba di pos pendakian pukul 6 petang, melapor terlebih dahulu membereskan
barang barang ke dalam mobil dan pamit duluan dengan tim bang tiar.
Fisik ahirnya tumbang,
setelah jakpot saya memilih meminum antimo dan tertidur pulas sampai bogor.
| We see you soon! |
"We enter the mountain as stranger & left the mountain as brother"
Terimakasih Papandayan atas keindahan dan keelokan semestamu. Selalu ada kejutan dan cerita dibalik sebuah perjalanan. Terimakasih Fici, Goldy, Cideuk, Jofino, Nona, Fani, Bang Oji dkk, Bang Tiar dkk dan yang lainnya atas momennya. Sampai bertemu di rekam jejak perjalanan lainnya.
“There is no end to the adventures that we can have”
Little Note: "Bagi yang membawa kendaraan pribadi, sebelumnya dipersiapkan kondisi mobil yang fit dan bisa untuk jalanan rusak karena jalan dari gerbang cisurupan sampai ke pos pendakian lumayan offroad dan ektsrem. Terlebih jika melakukan perjalanan malam hari, keep safely the journey "
Terimakasih Papandayan atas keindahan dan keelokan semestamu. Selalu ada kejutan dan cerita dibalik sebuah perjalanan. Terimakasih Fici, Goldy, Cideuk, Jofino, Nona, Fani, Bang Oji dkk, Bang Tiar dkk dan yang lainnya atas momennya. Sampai bertemu di rekam jejak perjalanan lainnya.
“There is no end to the adventures that we can have”
Little Note: "Bagi yang membawa kendaraan pribadi, sebelumnya dipersiapkan kondisi mobil yang fit dan bisa untuk jalanan rusak karena jalan dari gerbang cisurupan sampai ke pos pendakian lumayan offroad dan ektsrem. Terlebih jika melakukan perjalanan malam hari, keep safely the journey "
