Perempuan Angin

Perempuan Angin

April 9, 2013

Dua Malam di Gunung Papandayan

Sekilas Tentang Gunung Papandayan
Gunung Papandayan merupakan gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Kecamatan Cisurupan, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2665 ini memiliki komplek kawah yang aktif dan mengeluarkan asap belerang. Keindahan komplek kawahnya, hutan mati, pondok salada, tebing curam & tinggi, tegal alun tak kan ada habisnya.
Untuk menuju gunung papandayan dapat menggunakan bus langsung dari Kp. Rambutan menuju Terminal Guntur dengan kisaran biaya 30-35 ribu/org  dan dilanjutkan naik angkutan umum ke pertigaan Cisurupan 6rb. Selanjutnya naik ojek (20-25ribu) atau dengan mobil terbuka 15rb/org sampai pintu masuk.

Hutan Mati
22 Februari 2013
“Jadi kita berangkat cuma bertiga nih?.....” dan semesta berkata lain.
Sore yang cerah, menemani Dimas Askinding a.k.a Cidek ke pasar untuk belanja persediaan kedainya dan berbelanja kebutuhan logistik selama digunung. Tak lama menuju rumah goldy untuk repacking dan meeting point disana. Packing tak kunjung kelar rasanya, semua alat dan logistik mau dibawa, sampe kasur lipet milik nona Johar yang katanya buat leyeh leyeh saat ngecamp mau dibawain sama goldy sukses ditinggal dalam mobil, 



Carrier dan daypack sudah masuk kedalam mobil, persiapan sudah oke dan tiba tiba.
“Bang, jangan naik gunung gitu cuacanya lagi buruk …………” ujar Mama Goldy
Pikir beliau hanya kemping di tempat camp biasa gapake naik bukit dan ahirnya abang goldy pun mulai menjelaskan ke ibunya perlahan. Oke, dapet izin asal naik bareng rombongan lain atau yang sudah tau jalan. Mimik wajah goldy pun berubah seketika, bingung mengiyakan.

Ba’da maghrib. Saya, goldy, nona, dimas, jofino dan fanny pun memulai perjalanan. Diawali pemberhentian pertama di wakidi untuk mengisi perut terlebih dahulu dan fici pun melaju hingga ± 200km sampai pintu masuk utama kawasan papandayan memakan waktu 6,5 jam perjalanan. Ditengah perjalanan menuju pintu masuk, tak habisnya istighfar, jalanan rusak tengah hutan dengan bonus pemandangan kota garut yang aduhai. Muncul ketakutan ban nyelip di tengah hutan, puji syukur supir berlisensi legal Jofino bisa mengatasinya sampai area parkir.

23 Februari 2013
Tiba basecamp pukul 2.30 pagi dan pos pendakian pun tutup, kami memutuskan beristirahat sejenak menunggu sang fajar di dalam mobil dengan desiran angin yang kencang.
“Gue merem sama melek sama aja, sama sama gelap” Celetuk Jofino.
Semuanya tertawa kemudian hening, menikmati kegelapan dan memaksakan untuk tidur.

                       


Panggilan alam selalu membangunkanku lebih awal, tapi angin kencang diluar mengurungkan niatku. Beberapa pendaki pun mulai berdatangan, setelah mendaftar mereka langsung naik, sedangkan kami masih repacking kembali dan mendaftar di pos pendakian membayar uang masuk yang sukarela ditambah 20 ribu uang penitipan mobil untuk semalam, selembar 50 ribu kami keluarkan semuanya untuk 6 orang.



Usai doa sebelum perjalanan, pukul 7.25 kami pun mulai melangkahkan kaki lebih jauh menuju jalur pendakian. Baru awal perjalanan sudah disuguhkan indahnya tebing tebing curam dan bau belerang yang sangat menyengat. Jangan lupa menggunakan masker dan basahi dengan air sebelumnya. Jalur menuju pondok salada ada 2, setelah mengikuti jalur motor trail yang ada sampai di pertigaan jalur ke kiri jalur terjal untuk melewati hutan mati dan jalur landai ke kanan untuk langsung ke pondok salada.



Kami memilih kiri jalur terjal yang sebagian ditumbuhi vegetasi pohon cantigi, jalur yang menguras tenaga namun sampainya di hutan mati disuguhkan potret bencana yang melahirkan keindahan alam yang luar biasa. Tak hentinya mengucapkan subhanallah….
Setelah melepas lelah perjalanan dilanjutkan menuju pondok salada dan bergabung dengan rombongan Jakarta mengikuti arah petunjuk yang ada sampai bertemu bunga abadi dan melewati kubangan kubangan air. Tibalah di pondok salada pukul 10.30, kemudian mendirikan tenda dan mulai mengepulkan asap dapur.



Bentang Alam Hutan Mati
Sore berkabut kami nikmati untuk leyeh leyeh dalam tenda dengan suhu udara yang semakin dingin. Cuaca ekstrem saat itu mengakibatkan terjadinya angin badai dikawasan gunung papandayan. Malamnya kami berpatroli ke tenda tetangga tetangga sekedar untuk menyapa bercengkrama dan berujung bermain ABC 5 dasar sampai lelah tawa mengahiri. Gerimis menemani sampai pagi..




24 Februari 2013
“Jo, lo tidur ngigo parah kedinginan sampe menggigil pula, watir siah aing. Tau kondisi semalem lu gitu mending sekarang gausah naik ampe atas” Jopino ngoceh.
Pagi pagi jofino udah heboh nyeritain ngigonya saya malem itu, ga sadar sih tapi emang saat itu kondisi saya sedang tidak fit, flu berat bercampur sakit kepala dan memaksakan naik. Padahal jofino juga gak kalah menggigilnya malem itu sampe tremor, tidur tanpa sleeping bag. 
Kapok ya, Jop? hahaha
Seduhan kopi pertama pagi itu, manis sambil menikmati potret pagi pondok salada dan bunga abadi yang diselimuti bulir es. Dan taraaa, sedang asik mengepulkan asap dapur kita kehabisan gas. Cideuk pun langsung berburu gas ke tenda seberang, tendanya bang oji. Gerimis dan berkabutnya cuaca pagi itu ahirnya kami mengurungkan niat untuk ngetrek pagi ke tegal alun. Santai dulu lur enjoy dulu, goldy dan cideuk pun mencoba mandi pake air gunung dibalas gelengan kepala jopino yang cukup dengan tremornya semalem, pecah tawa kami.

Bunga abadi pondok salada diselimuti bulir es
Pukul 9.15 kami bergabung dengan rombongan Jakarta (dewi, bang tiar dan 2 rekannya) dan rombongan garut (bang oji, opi, fahmi) menuju tegal alun hanya membawa logistik dan peralatan yang diperlukan sisanya ditinggal dalam tenda, sempat salah jalan menuju hutan mati bukannya melipir ke kanan dari kubangan air itu.

Jofino, Fanny, Cidek, Bang Oji, Opi, Saya, Goldi, Fahmi

Naik gunung juga ngantri bung
Jalur yang basah dan lengket karena kontur tanah yang bercampur batuan kapur dan menanjak memperlambat ritme kami, sesekali angin kencang menggoyahkan badan ini. Sakit kepala dan flu berat memperparah kondisi saya, terkadang gak fokus dan kepleset beruntung ada jofino yang siap tahan tubuh saya dari belakang.
Kenapa juga gak ngikutin jalur cideuk dan bang oji yang memotong jalan, mereka sampai terlebih dahulu menunggu kita di puncak nangklak sedangkan saya dan lainnya masih mengantri untuk naik.
Pukul 11.30 sampailah di tegal alun, sejauh mata memandang bunga abadi memperlihatkan kecantikannya. Indonesia miniaturnya surga bung, sayang jika dilewatkan!


Dari Puncak Nangklak
Halo tegal alun
Panorama Tegal Alun
Tak lama kami menikmati eloknya tegal alun, pukul 13.10 kami bersiap kembali ke pondok salada. Mengikuti jalur sewaktu berangkat dan tanda yang sebelumnya telah dibuat namun bertemu kembali dengan bunga abadi, ah rupanya kita salah jalan.  
Kembali lagi menelusuri jalan sebelumnya dan kami tidak menemukan tanda yg sebelumnya telah dibuat. Ahirnya salah satu rombongan membuka jalur dan ternyata menemukan aliran sungai. Jalurnya lebih terjal batu batu besar, dan pondok salada terlihat jelas dari atas. Sampai di pondok salada pukul 14.45 beres beres tenda, dan ciwi ciwi kece nona & fanny masak untuk bekal energi pulang. Tim bang oji dari garut pamit turun duluan, sedangkan saya turun bareng rombongan bang tiar. 

Come as strangers, left as brothers
jalur air

Selalu ada cara Tuhan menegur hambanya, ditengah perjalanan turun dan hendak istirahat disungai, saya terpleset dan kepala saya terjatuh di tengah himpitan batu besar, tenggelam dalam air. Saat yang lainnya panik mencemaskan, saya bangun dan terengap engap karena tertelan air sungai sambil tertawa gelagap. HAHAHAHA dingin bro air sungainya.
.


Beratapkan langit gelap kami tiba di pos pendakian pukul 6 petang, melapor terlebih dahulu membereskan barang barang ke dalam mobil dan pamit duluan dengan tim bang tiar.
Fisik ahirnya tumbang, setelah jakpot saya memilih meminum antimo dan tertidur pulas sampai bogor.

We see you soon!
"We enter the mountain as stranger & left the mountain as brother"
Terimakasih Papandayan atas keindahan dan keelokan semestamu. Selalu ada kejutan dan cerita dibalik sebuah perjalanan. Terimakasih Fici, Goldy, Cideuk, Jofino, Nona, Fani, Bang Oji dkk, Bang Tiar dkk dan yang lainnya atas momennya. Sampai bertemu di rekam jejak perjalanan lainnya. 
“There is no end to the adventures that we can have
Little Note: "Bagi yang membawa kendaraan pribadi, sebelumnya dipersiapkan kondisi mobil yang fit dan bisa untuk jalanan rusak karena jalan dari gerbang cisurupan sampai ke pos pendakian lumayan offroad dan ektsrem. Terlebih jika melakukan perjalanan malam hari, keep safely the journey "

April 7, 2013

nobody wants to be alone

First, you will love.
You will enjoy the beauty of quiteness, the freedom from responsibilities. You will love how you do things only for yourself. But then you will realize that nobody cares about you, you will miss talking to people. You will miss the arguments and you will even miss the simple hellos. And at the end, you will return to the real world and say you hate loneliness.
is it life circle feeling?

One good time,

Get involved deeply conversation with Eyad Essam