Perempuan Angin

Perempuan Angin

October 18, 2012

Pendakian Gunung Semeru

Biarkan keyakinan kamu, 5 cm menggantung mengambang didepan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya. Serta mulut yang akan selalu berdoa. Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan cuma seonggok daging yang hanya punya nama. Percaya pada 5 centimeter didepan kening kamu
Begitulah kutipan dari novel 5 cm yang pernah saya baca pertama kalinya waktu sekolah menengah atas, dari tulisaannya yang syarat akan motivasi. Dan berawal dari novel tersebutlah saya mulai penasaran dengan dinginnya ranukumbolo, mitosnya tanjakan cinta, syahdunya oro-oro ombo, dan puncaknya para dewa. Perlahan itu semua akan terjawab...


---------------------------------------------------------------***-----------------------------------------------------

Sekilas Tentang Gunung Semeru

Gunung semeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa dengan puncaknya Mahameru 3676 meter diatas permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloka dan danau tertinggi di Gunung Semeru adalah Danau Ranukumbulo (2400 mdpl). Gunung ini terletak di daerah Kabupaten Malang dan Lumajang, masuk dalam area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Dibutuhkan waktu sekitar empat hari untuk mendaki sampai ke puncak Mahameru pulang pergi. Untuk mendaki gunung ini bisa melewati Kota Malang dan Lumajang, namun biasanya para pendaki lebih sering melewati Kota Malang. Dari Terminal Kota Malang Arjosari naik angkutan umum sampai pasar tumpang dengan biaya Rp 10.000 per orang, disambung lagi naik jeep atau truk sayuran/pupuk dari pasar tumpang menuju desa ranu pani dengan kisaran biaya, jeep Rp 35.000 per orang sedangkan truk sayuran/pupuk Rp 30.000 per orang dengan prinsip semakin banyak rombongan bisa dapat harga lebih murah. Dipasar tumpang ini kita bisa berbelanja keperluan logistik untuk pendakian. Surat izin pendakian bisa di urus di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II (SPTN II) di Tumpang dengan nomor telpon (0341) 787972 atau di kantor Resort Pengelolaan Taman Nasional di wilayah Ranu Pani (0341) 491828 dengan perincian karcis masuk TNBTS Rp 1.250,- per orang, Iuran asuransi Rp 2.000 per orang, materai surat izin Rp 6.000, membawa kamera dikenakan biaya Rp 5.000 per kamera. Persyaratan yang wajib dilengkapi yaitu: fotocopy identitas diri, surat keterangan sehat, mengisi biodata semua peserta pendakian, mengisi buku tamu (nama ketua kelompok, jumlah pengikut, tanggal naik & turun) dan mengisi formulir daftar barang bawaan. Di pos ranu pani juga terdapat 2 buah danau yaitu danau ranu pani dan danau ranu Regulo dengan ketinggian 2100 mdpl.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Joyo Grand-Tumpang-Ranupani
Ahirnya impian saya 5 tahun yang lalu akan selangkah terealisasikan menginjakkan kaki di semeru dengan ditemani teman yang kuliah di Brawijaya, harpa dan nita teman kampusnya. Setelah menempuh perjalanan 1 jam dari kontrakan joyo grand sampai di pasar tumpang sekitar pukul 7.20 dengan diantar Devi & Ikmal, kami melanjutkan perjalanan ke desa ranupani dengan menggunakan truk pupuk milik bapak teguh (085815042267) biaya 100 ribu untuk 3 orang.. 
Perjalanaan 2 jam dari tumpang sampai ranupani yang melewati jalan yang berkelok kelok berdebu dan tanjakan yang curam sampai memasuki hutan konservasi TNBTS, berulang kali kepala kami terantuk ranting ranting pohon yang menjalar di atas kepala.





Dan akhirnya kami sampai di Resort Pengelolaan Taman Nasional Ranu pani untuk pos pemeriksaan, ada warung warung makan dan pondok penginapan di sekitar area pos. 
Saya dan harpa segera mengurus surat perizinan bertemu dengan Pak Ningot sinambela yang mengurusi bagian perizinan, pesan yang selalu saya ingat dari beliau “Jaga ego masing masing, jangan tinggalkan temannya sendiri tetap berjalan bersama timnya dan selalu hati hati”.
Lengkap sudah perizinan kami melanjutkan ke resort ranu regulo yang jaraknya ± 100m dari pos perizinan bertemu temannya Harpa untuk membantu packing ulang.

Ranupani-Landengan Dowo-Pos 1
Pukul 13.30 akhirnya kami memulai pendakian, melewati jalanan aspal dengan pemandangan kiri kanan lereng bukit yang ditanami sayuran, sampai juga di gapura “ Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru” setelah gapura jalanan tanah dan berdebu ikuti jalur ke kiri terus ke arah bukit dengan petunjuk papan “jalan semeru” jangan mengikuti jalur yang lebar menuju ke kebun penduduk.




Jalur awal yang landai menyusuri jalan setapak pavingan blok yang didominasi oleh alang alang dan banyak terdapat pohon tumbang serta ranting ranting di atas kepala. Sampailah kami di pos 1 pukul 15.40, istirahat sejenak di pos ini harpa dan nita bertemu teman teman kampusnya. Akhirnya kami pamit duluan meneruskan perjalanan, menyusuri lereng bukit yang berkelok, menikmati setiap langkah & pemandangan yang indah ke arah lembah dan bukit bukit yang ditumbuhi pohon cemara pinus serta menyaksikan puncak mahameru dari kejauhan, Subhanallah.



Harpa dan Mahameru
Pos 2- Jembatan
Langkah demi langkah sampailah di pos 2 yang mulai gelap, istirahat sejenak meneguk air untuk membasahi kerongkongan yang kering dan menyeka keringat yang sudah bersahabat dengan badan ini sejak awal pendakian. Melanjutkan perjalanan yang semakin gelap, kami mengeluarkan alat penerangan senter sampai ahirnya harpa nyeletuk “ Kalo ada yang kentut  bilang ya” mungkin kita bertiga punya perasaan yang sama, sama sama takut dengan perjalanan yang mulai gelap dengan tim hanya 3 orang tapi tetap merasa sok tegar semuanya hahaha. Ini pendakian perdananya harpa untuk naik gunung dan temannya nita udah naik semeru 2 kali dan baru pertamanya gendong keril sama ngetrack malam. Oke bonus untuk kami ngetrack malam dengan udara dingin yang mulai mengusap halus tulang tulang kami. Harpa sebagai ketua pendakian mau ga mau ambil keputusan karena dia bertanggung jawab besar atas 2 cewek sebagai pengikutnya. Ahirnya kita istirahat sejenak waktu maghrib dan menunggu teman harpa yang tertinggal jauh dibelakang kita, mulai terlihat sorotan lampu headlamp mereka dari kejauhan tetapi tak banyak bergerak. Kurang lebih 2 jam kami menunggu mereka sampai tubuh ini tidak bisa kompromi lagi dengan dinginnya udara malam itu. Solusinya adalah melanjutkan perjalanan karena tubuh ini harus banyak bergerak, belum terlalu jauh kami melanjutkan perjalanan sampai di jembatan mengatur napas sejenak dan sorotan cahaya headlamp itu semakin dekat. Harpa meneriaki salah satu teman mereka dan alhamdulilah ada respon dari mereka. Dia menghampiri temannya dan membawakan salah satu keril dari mereka, anggota tim mereka yang sakit bertambah satu, dan yang lainnya sudah merasa lelah karena bergantian membawa 2 keril setelah pos 1. Harpa memutuskan membawakan salah satu keril mereka sampai ranukumbolo. Ahirnya kita bergabung menjadi satu tim, sesaat kita meluruskan otot dan saraf yang mulai kedinginan dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan kembali. Saya berjalan dibagian depan dilanjuti oleh 2 cewek, Anggrek dan Nita dan 5 cowok berikutnya Mukhlis, Mas Kur, Rifqy, Uki dan Harpa.

Pos 3- Pos 4-Ranukumbolo
Sampai di pos 3 terdapat pos dengan atap yang sudah rubuh, mengatur napas sejenak dan mulai menanjaki tanjakan yang lumayan terjal.
Jalan 10-20 langkah istirahat sejenak sampai pada klimaksnya mendekati pos 4 yang membawa 2 keril benar benar lelah dan minta istirahat 5 menit. Dalam keadaan yang subhanallah dinginnya sekitar pukul 22.30 harpa dan yang lainnya tertidur beberapa detik. Perjalanan harus segera dilanjutkan karena semakin tipisnya oksigen. Sorotan cahaya dari camping ground ranukumbulo sudah terlihat, melewati pos 4 terlebih dahulu dan melipir menuruni bukit. Rasanya dengkul ini sudah lemas dan kedinginan tak kuat menahan beban daypack dan keril yang saya bawa.
Sampai di bawah pukul 23.20 kami semua memutuskan untuk buka tenda dan melanjutkan ke camping ground ranukumbolo besok. Bonus lagi, pasak tenda kita hilang mungkin terjatuh saat kita ambil makanan sewaktu istirahat. Alhasil kita numpang pasak di tenda sebelah. Tenda sebelah masih sempat sempatnya memasak, saya harpa dan nita memilih untuk makan roti tawar dan tidur karena rasa lelah dan kantuk yang tak bisa ditolerir. Sudah berselimut jaket, sarung dan sleepingbag di dalam tenda bukan berarti sudah hangat dan bisa tidur pulas, terlebih lagi karena kaos kaki dan sarung tangan yang lembab. Tenda untuk ukuran 5 orang diisi dengan 3 orang rasanya banyak ruang yang kosong dan udara dingin berkeliaran seenaknya saja di dalam tenda. Saya benar benar tidak bisa tidur pulas malam itu, sampai tertidur dalam posisi duduk berharap kaki dan badan ini hangat tapi hasilnya nihil. Mata sudah terpejam tapi tubuh masih terjaga menikmati dinginnya ranukumbolo. Selamat malam Ranukumbolo.

Minggu, 14 Oktober 2012

Ranukumbolo – Camping Ground Ranukumbolo
Ah saya bangun terlalu siang sampai tak menikmati sunrise ranukumbolo karena baru bisa terlelap tidur beberapa jam lalu, matahari sudah mulai menghangatkan permukaan bumi dan tenda sebelah sudah mulai ramai memasak. Segera saya membasahi muka dengan air ranukumbolo, subhanallah segarnya! Melanjutkan untuk harmoni alam, sayur sop, nugget dan tempe goreng terasa sangat nikmat dinikmati dalam kebersamaan pagi itu.






Tidak bisa melanjutkan perjalanan sampai kalimati itulah kesepakatan kita bersama, kami sepakat untuk menghabiskan waktu di camping ground ranukumbolo saja karena dilihat dari beberapa faktor lain, keadaan mas kurniawan yang belom fit, bahu harpa yang masih sakit karena semalam, pertimbangan nita yang sudah mengetahui medan menuju kalimati dan sumbermani, walau berat rasanya mengikhlaskan dan meridhoi hal tersebut dan mengesampingkan ambisi dan ego masing masing namun itulah ujian dalam pendakian. 
Puncak itu bonus, kembali kerumah dengan selamat itu keberhasilannya karena mahameru adalah perjalanan fisik, mental dan hati yang butuh keikhlasan.
Dan hari itu dihabiskan untuk menikmati indahnya ranukumbolo, berbagi dengan alam sekitar dan bercengkrama dengan para pendaki lain. Hal yang tak dapat ditemukan di peradaban kota.







Senin, 15 Oktober 2012

Nikmat mana lagi yang bisa saya dustakan ketika bisa menikmati lukisanNya, sunrise ranukumbolo dan ditemani hangatnya segelas kopi. Subhanallah, benar benar gabisa dinarasikan.
Hari itu bertepatan dengan ulang taun Ibu saya “Selamat ulang tahun bu, doa dan rindu terkirim untukmu dari ranukumbolo”  Ingin rasanya telpon beliau tapi apa daya krisis sinyal di ketinggian 2400 mdpl.







Waktunya untuk aksi bersih bersih ranukumbolo, walau belum bisa ke mahameru paling tidak ada hal positif lain yang bisa kita lakukan disini walaupun ga berpengaruh banyak namun bisa menjadi batu loncatan untuk pendaki lain untuk menjaga kebersihan area sekitar ranukumbolo agar kelak anak cucu kita masih bisa menikmati tanah semeru. Bermodalkan energi dari nasi goreng dan nugget, para jejaka mulai menyisiri sampah sampah di area camp, ada yang mengambili sampah di tepian danau, sampah plastik dan juga sampah sampah botol bekas minuman. Huuuuh udah 2 karung sampah yang dikumpulkan dan besoknya siap diboyong sampai basecamp ranupani.

Salam Rindu, Anakmu.



Oro-oro ombo
Sorenya saya menikmati trek tanjakan cinta sampai padang ora ora ombo, ditengah perjalanan kami harus bergegas pulang ke tenda karena hujan, yang awalnya optimis kabut jenuh saya pun ikut berlari naik turun bukit.

Selasa, 16 Oktober 2012

Packing packing ayo kita packing! Hah rasanya belom mau meninggalkan ranukumbolo yang sakral akan keindahanya. Pecel dan teh susu menjadi energi kita untuk pulang, berbagi sarapan dan bercengkrama dengan pasangan bule dari perancis jadi topik kita pagi itu, ternyata mereka menghabiskan waktu 2  bulan mereka di Indonesia untuk menikmati keindahan alam Indoesia.

Potret pagi ranukumbolo
Mas Kur, Muchlis, Anggrek, Nita, George, Marie, Saya, Uki, Rifqy, Harpa
Keril sudah siap, pukul 9.10 kita mulai ngetrack menuju ranupani dengan bonus harpa uki dan yang lainnya gantian membawa karung sampah. Tidak butuh waktu lama untuk perjalanan pulang, cukup 4,5 jam kita sudah sampai di pos ranupani. Alhamdulillah ahirnya lihat jalanan aspal kembali, sampainya di pos kami lapor kepada Pak Ningot Sinambela telah turun dengan selamat dan menyerahkan sampah yang telah kita bawa. Beruntung ada truk terakhir, kita gabung dengan para pendaki yang lain yang akan menuju Malang dan pulang ke kotanya masing masing. Berbaur dengan kabut yang mulai naik dan ahirnya hujan turun, wah benar benar seru perjalanan pulang itu.

Ranukumbulo yang selalu membuat rindu.

Walau impian saya 5 tahun yang lalu menginjakkan kaki di Mahameru masih harus tertunda namun selalu ada teladan hidup yang bisa diambil dari perjalanan alam. Bertemu dengan orang orang baru, berbeda kepala, berbeda pikiran, berbeda karakter, berbeda cara namun satu tujuan. Mahameru akan kutempuh ragamu di lain kesempatan.

October 10, 2012

Pulau Sempu

Malang bukan kota yang tabu untuk saya, setelah 3 bulan yang lalu saya mengunjunginya. Saat ini saya kembali tanpa ada rencana sebelumnya. Udara yang sejuk yang selalu saya rindukan begitu juga wisata alam dan kulinernya. Salah satu tujuan saya akan sedikit terealisasikan oleh Harpa yang mengiyakan ajakanku kemping di Pulau Sempu akhir pekan. Dan saya siap berangkat ke Pulau sempu untuk kedua kalinya bersama Harpa, Mantong, Ikmal, Beny, Devi dan Nisa.

Sekilas Tentang Pulau Sempu

Pulau sempu adalah pulau kecil yang berada di bagian selatan pulau jawa. Pulau ini terletak dalam wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pulau sempu merupakan bagian dari kawasan cagar alam yang memiliki luas sekitar 877 ha dan dilindungi oleh pemerintah. Pulau ini berbatasan dengan Selat Sempu (Pantai Sendang BIru) dan dikelilingi Samudera Hindia.
Pulau sempu dapat ditempuh dari Malang dengan waktu tempuh ± 2,5-3 jam dengan menggunakan  motor atau mencarter angkutan. Sebagai catatan tidak ada angkutan umum menuju pulau tersebut. Selanjutnya menyebrangi Sendang Biru menuju teluk semut dengan waktu tempuh 10 menit menggunakan perahu motor nelayan dengan biaya 100 ribu untuk satu perahu.
Pulau sempu memiliki laguna segara anakan yang sangat menawan dengan pasir pantainya yang putih dan airnya yang jernih serta tebing tebing karang yang ada disekitar pantai memberikan pemandangan yang sangat indah.



Jumat, 5 Oktober 2012

Joyogrand – Pantai Sendang Biru
Setelah menempuh perjalanan 2 jam ahirnya kami sampai di pantai sendang biru pukul 09.00, saya dan ikmal segera mengurus tiket masuk dan membeli cumi di pasar ikan sendang biru untuk makan malam sedangkan harpa mengurusi perijinan bermalam di segara anakan sisanya mencari perahu untuk menyebrang. Lengkap sudah perizinan dan barang bawaan, ahirnya kita menyebrangi sendang biru dengan menggunakan perahu motor nelayan. Cukup 10 menit kita sudah sampai di teluk semut, jalan utama menuju laguna segara anakan.









Teluk Semut – Segara Anakan
Perjalanan menuju segara anakan dimulai dari teluk semut dan memasuki hutan. Trek awal yang dipenuhi dengan akar dan ranting yang menjalar di jalanan serta pohon pohon tumbang yang melintas di tengah jalan harus kita lewati, sesekali menanjak dan turun dengan kontur tanah yang kering namun jika hujan lumpurnya bisa selutut dan sangat licin, Alhamdulilah cuaca saat itu sangat cerah dan mempermudah perjalanan kami. 

Teluk Semut








Porter Kami 

Ditengah perjalanan kami beristirahat, harpa berlagak macam orang pingsan yang tiduran di tengah jalan karena lelahnya membawa sekardus air mineral dan para lelaki harus bergantian mengangkat dua kardus air minum tsb. Sebagai catatan jika ingin bermalam di segara anakan lebih baik membawa persediaan air minum yang cukup untuk kebutuhan selama disana karena tidak adanya sumber mata air payau. Kurang dari 2 jam kami sampai di segara anakan, rasa lelah sedikit terbayar ketika melihat birunya air segara anakan. Namun sayang, pulau sempu yang sudah mulai dikenal banyak orang mulai tercemar dengan sampah para wisatawan yang kurang peduli dengan kelanjutan alam pulau sempu. Beruntunglah masih ada yang peduli dengan kebersihan pulau sempu, disana kami bertemu dengan pencinta alam yang membersihkan sampah di area sekitar segara anakan dan membawa sampahnya ke sendang biru.












Hah berleyeh leyeh sejenak, sebagian yang beristirahat dan sisanya menyiapkan makanan untuk makan siang.  Makan siang seadanya yang dinikmati di alam akan terasa begitu nikmat dalam kebersamaannya.
Setelah makan siang waktunya kami bermain air, niat hati mau mancing dan berekspetasi dapet ikan untuk makan malam namun hasilnya nihil. Ikmal lebih tergoda untuk main air dibandingkan memancing.





Nutrijel Ala Chef Devi
Dari kejauhan terlihat gerombolan kera ekor panjang yang menghampiri tas kami dan mengambil cemilan serta sisa makanan kami. Dengan spontan harpa dan lainnya mengejar kera tersebut yang lari menjauh. Kera kera itu menjadi bahan tontonan kita hingga menjelang sore. Setelah dirasa aman, kami membuka tenda kemudian para lelaki mencari kayu bakar untuk api unggun sedangkan saya dan devi sibuk mempersiapkan cumi bakar untuk makan malam.





Malamnya, dengan bumbu seadanya karena bumbu bakar kami ilang di ambil kera atau terjatuh, ikmal dan beni memulai membakar cumi. Dengan metode pengasapan dan pembakaran, cumi bakar siap disajikan untuk makan malam.  Setelah kenyang kami bercengkrama beralaskan banner capres gagal dan beratapkan sedikit bintang bintang hingga larut malam sampai tertidur. Sempat terbangun karena gerimis sebentar dan kami melanjutkan tidur diluar tenda berselimutkan sleepingbag, dengan optimisnya kita yang berfikir gerimisnya sebentar, ahirnya kami pindah ke dalam tenda sekitar pukul 04.00 karena hujan yang sangat deras.  


















Sabtu, 6 Oktober 2012

Segara Anakan - Sendang Biru - Malang
Cuaca pagi itu tidak mendukung kami untuk bermain air, hujan sisa semalam masih awet hingga keesokan. Disaat orang orang ditenda yang lain sibuk diluar untuk bermain air dan hujan hujanan, kami memilih untuk tidur didalam tenda. Betul betul tenda yang malas, sampai kami keluar pun menggunakan payung hingga ditertawai yang lain.
Beruntung ada juru masak ikmal yang memasak makanan untuk sarapan di sela sela hujan turun. Kami menikmati sarapan pagi itu seadanya, sarden dan mie goreng menjadi tenaga kita untuk pulang. Dilanjutkan dengan packing dan bersih bersih, kami siap untuk pulang. Ada kejadian yang tidak diinginkan saat kita mau pulang, ilangnya kunci motor serta hape mantong dan harpa. Saat dicari cari kembali ahirnya ketemulah kunci motor mantong di semak semak tapi tidak berlaku untuk hape harpa dan mantong. Dengan wajah yang lesu sebelum pulang kami mengabadikan moment bersama dan beruntungnya menyaksikan lincahnya lumba lumba melompat lompat di lepas samudera hindia, harpa dan mantong mencoba mengikhlaskan hapenya.






Beruntung kita datang hari Jumat, hanya beberapa tenda saja yang bermalam saat itu berbeda saat kita mau pulang yang sangat ramai sekali. Tidak heran wisatawan yang datang ke pulau sempu saat libur akhir pekan sangat ramai dibanding hari biasanya yang ingin bermalam atau sekedar menikmati pesona alam segara anakan. Dan jalanan sewaktu pulang yang sedikit licin karena guyuran hujan dari semalam membuat kami lebih berhati hati, tidak butuh waktu lama untuk perjalanan pulang menuju teluk semut, cukup satu setengah jam kami sampai di teluk semut dan menunggu jemputan perahu.






Berlatar Samudera Hindia



Tibanya di sendang biru kami beristirahat sejenak di bawah pohon sambil menikmati es kelapa dan makan siang sambil menunggu teman lainya yang sedang mandi dan berganti pakaian. Setelah semuanya siap kami melanjutkan perjalanan menuju malang dengan cuaca yang mendung, berdoa jangan dulu turun hujan sampai kami tiba di malang, kemudian mengembalikan alat alat ke Dorent dan pulang ke kontrakan. Kabar baik sesampainya di kontrakan ternyata hape mantong terselip di bagian tas depan devi bercampur pembalut kotornya sedangkan hape harpa diketemukan keesokanya di tas devi, padahal sebelumnya udah digeledah isi tas devi dan hasilnya nihil. Nah loh?

Alam akan memberikan ketenangan dengan segala keindahannya dan memberikan kedamaian dengan segala kekuatannya. Percaya atau tidak masih ada dimensi lain  yang mesti kita hormati seiring menghormati dan menjaga kelangsungan alam sekitar. Bijaklah dalam berkata dan janganlah bersikap angkuh terhadap alam sekitar.