Malang bukan kota yang tabu untuk saya, setelah 3 bulan yang lalu saya mengunjunginya. Saat ini saya kembali tanpa ada rencana sebelumnya. Udara yang sejuk yang selalu saya rindukan begitu juga wisata alam dan kulinernya. Salah satu tujuan saya akan sedikit terealisasikan oleh Harpa yang mengiyakan ajakanku kemping di Pulau Sempu akhir pekan. Dan saya siap berangkat ke Pulau sempu untuk kedua kalinya bersama Harpa, Mantong, Ikmal, Beny, Devi dan Nisa.
Sekilas
Tentang Pulau Sempu
Pulau
sempu adalah pulau kecil yang berada di bagian selatan pulau jawa. Pulau ini
terletak dalam wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa
Timur. Pulau sempu merupakan bagian dari kawasan cagar alam yang memiliki luas
sekitar 877 ha dan dilindungi oleh pemerintah. Pulau ini berbatasan dengan
Selat Sempu (Pantai Sendang BIru) dan dikelilingi Samudera Hindia.
Pulau
sempu dapat ditempuh dari Malang dengan waktu tempuh ± 2,5-3 jam dengan
menggunakan motor atau mencarter
angkutan. Sebagai catatan tidak ada angkutan umum menuju pulau tersebut.
Selanjutnya menyebrangi Sendang Biru menuju teluk semut dengan waktu tempuh 10
menit menggunakan perahu motor nelayan dengan biaya 100 ribu untuk satu perahu.
Pulau
sempu memiliki laguna segara anakan yang sangat menawan dengan pasir pantainya
yang putih dan airnya yang jernih serta tebing tebing karang yang ada disekitar
pantai memberikan pemandangan yang sangat indah.
![]() |
Jumat,
5 Oktober 2012
Joyogrand – Pantai Sendang
Biru
Setelah
menempuh perjalanan 2 jam ahirnya kami sampai di pantai sendang biru pukul 09.00, saya dan
ikmal segera mengurus tiket masuk dan membeli cumi di pasar ikan sendang biru
untuk makan malam sedangkan harpa mengurusi perijinan bermalam di segara anakan
sisanya mencari perahu untuk menyebrang. Lengkap sudah perizinan dan barang
bawaan, ahirnya kita menyebrangi sendang biru dengan menggunakan perahu motor
nelayan. Cukup 10 menit kita sudah sampai di teluk semut, jalan utama menuju
laguna segara anakan.
Teluk Semut – Segara Anakan
Perjalanan
menuju segara anakan dimulai dari teluk semut dan memasuki hutan. Trek awal
yang dipenuhi dengan akar dan ranting yang menjalar di jalanan serta pohon
pohon tumbang yang melintas di tengah jalan harus kita lewati, sesekali
menanjak dan turun dengan kontur tanah yang kering namun jika hujan lumpurnya
bisa selutut dan sangat licin, Alhamdulilah cuaca saat itu sangat cerah dan
mempermudah perjalanan kami.
| Teluk Semut |
| Porter Kami |
Ditengah
perjalanan kami beristirahat, harpa berlagak macam orang pingsan yang tiduran
di tengah jalan karena lelahnya membawa sekardus air mineral dan para lelaki
harus bergantian mengangkat dua kardus air minum tsb. Sebagai catatan jika
ingin bermalam di segara anakan lebih baik membawa persediaan air minum yang
cukup untuk kebutuhan selama disana karena tidak adanya sumber mata air payau.
Kurang dari 2 jam kami sampai di segara anakan, rasa lelah sedikit terbayar
ketika melihat birunya air segara anakan. Namun sayang, pulau sempu yang sudah
mulai dikenal banyak orang mulai tercemar dengan sampah para wisatawan yang
kurang peduli dengan kelanjutan alam pulau sempu. Beruntunglah masih ada yang
peduli dengan kebersihan pulau sempu, disana kami bertemu dengan pencinta alam
yang membersihkan sampah di area sekitar segara anakan dan membawa sampahnya ke
sendang biru.
Hah
berleyeh leyeh sejenak, sebagian yang beristirahat dan sisanya menyiapkan
makanan untuk makan siang. Makan siang
seadanya yang dinikmati di alam akan terasa begitu nikmat dalam kebersamaannya.
Setelah
makan siang waktunya kami bermain air, niat hati mau mancing dan berekspetasi
dapet ikan untuk makan malam namun hasilnya nihil. Ikmal lebih tergoda untuk
main air dibandingkan memancing.
| Nutrijel Ala Chef Devi |
Dari
kejauhan terlihat gerombolan kera ekor panjang yang menghampiri tas kami dan
mengambil cemilan serta sisa makanan kami. Dengan spontan harpa dan lainnya
mengejar kera tersebut yang lari menjauh. Kera kera itu menjadi bahan tontonan
kita hingga menjelang sore. Setelah dirasa aman, kami membuka tenda kemudian
para lelaki mencari kayu bakar untuk api unggun sedangkan saya dan devi sibuk
mempersiapkan cumi bakar untuk makan malam.
Malamnya,
dengan bumbu seadanya karena bumbu bakar kami ilang di ambil kera atau
terjatuh, ikmal dan beni memulai membakar cumi. Dengan metode pengasapan dan
pembakaran, cumi bakar siap disajikan untuk makan malam. Setelah kenyang kami bercengkrama beralaskan
banner capres gagal dan beratapkan sedikit bintang bintang hingga larut malam
sampai tertidur. Sempat terbangun karena gerimis sebentar dan kami melanjutkan
tidur diluar tenda berselimutkan sleepingbag, dengan optimisnya kita yang
berfikir gerimisnya sebentar, ahirnya kami pindah ke dalam tenda sekitar pukul
04.00 karena hujan yang sangat deras.
Sabtu,
6 Oktober 2012
Segara Anakan - Sendang Biru
- Malang
Cuaca
pagi itu tidak mendukung kami untuk bermain air, hujan sisa semalam masih awet
hingga keesokan. Disaat orang orang ditenda yang lain sibuk diluar untuk
bermain air dan hujan hujanan, kami memilih untuk tidur didalam tenda. Betul
betul tenda yang malas, sampai kami keluar pun menggunakan payung hingga
ditertawai yang lain.
Beruntung
ada juru masak ikmal yang memasak makanan untuk sarapan di sela sela hujan
turun. Kami menikmati sarapan pagi itu seadanya, sarden dan mie goreng menjadi
tenaga kita untuk pulang. Dilanjutkan dengan packing dan bersih bersih, kami
siap untuk pulang. Ada kejadian yang tidak diinginkan saat kita mau pulang,
ilangnya kunci motor serta hape mantong dan harpa. Saat dicari cari kembali
ahirnya ketemulah kunci motor mantong di semak semak tapi tidak berlaku untuk hape harpa dan
mantong. Dengan wajah yang lesu sebelum pulang kami mengabadikan moment
bersama dan beruntungnya menyaksikan lincahnya lumba lumba melompat lompat di lepas samudera hindia, harpa dan mantong mencoba mengikhlaskan hapenya.
Beruntung
kita datang hari Jumat, hanya beberapa tenda saja yang bermalam saat itu
berbeda saat kita mau pulang yang sangat ramai sekali. Tidak heran wisatawan
yang datang ke pulau sempu saat libur akhir pekan sangat ramai dibanding hari
biasanya yang ingin bermalam atau sekedar menikmati pesona alam segara anakan.
Dan jalanan sewaktu pulang yang sedikit licin karena guyuran hujan dari semalam
membuat kami lebih berhati hati, tidak butuh waktu lama untuk perjalanan pulang
menuju teluk semut, cukup satu setengah jam kami sampai di teluk semut dan menunggu
jemputan perahu.
Tibanya
di sendang biru kami beristirahat sejenak di bawah pohon sambil menikmati es
kelapa dan makan siang sambil menunggu teman lainya yang sedang mandi dan
berganti pakaian. Setelah semuanya siap kami melanjutkan perjalanan menuju
malang dengan cuaca yang mendung, berdoa jangan dulu turun hujan sampai kami
tiba di malang, kemudian mengembalikan alat alat ke Dorent dan pulang ke
kontrakan. Kabar
baik sesampainya di kontrakan ternyata hape mantong terselip di bagian tas
depan devi bercampur pembalut kotornya sedangkan hape harpa diketemukan keesokanya di tas devi, padahal
sebelumnya udah digeledah isi tas devi dan hasilnya nihil. Nah loh?
Alam akan memberikan ketenangan dengan segala keindahannya dan memberikan kedamaian dengan segala kekuatannya. Percaya atau tidak masih ada dimensi lain yang mesti kita hormati seiring menghormati dan menjaga kelangsungan alam sekitar. Bijaklah dalam berkata dan janganlah bersikap angkuh terhadap alam sekitar.

Bukannya sempu ga boleh untuk umum ya, bro?
ReplyDeleteMemang untuk konservasi, dan kita sudah ijin masuk kawasan dengan polisi hutan disana mas.
ReplyDelete