Perempuan Angin

Perempuan Angin

October 10, 2012

Pulau Sempu

Malang bukan kota yang tabu untuk saya, setelah 3 bulan yang lalu saya mengunjunginya. Saat ini saya kembali tanpa ada rencana sebelumnya. Udara yang sejuk yang selalu saya rindukan begitu juga wisata alam dan kulinernya. Salah satu tujuan saya akan sedikit terealisasikan oleh Harpa yang mengiyakan ajakanku kemping di Pulau Sempu akhir pekan. Dan saya siap berangkat ke Pulau sempu untuk kedua kalinya bersama Harpa, Mantong, Ikmal, Beny, Devi dan Nisa.

Sekilas Tentang Pulau Sempu

Pulau sempu adalah pulau kecil yang berada di bagian selatan pulau jawa. Pulau ini terletak dalam wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pulau sempu merupakan bagian dari kawasan cagar alam yang memiliki luas sekitar 877 ha dan dilindungi oleh pemerintah. Pulau ini berbatasan dengan Selat Sempu (Pantai Sendang BIru) dan dikelilingi Samudera Hindia.
Pulau sempu dapat ditempuh dari Malang dengan waktu tempuh ± 2,5-3 jam dengan menggunakan  motor atau mencarter angkutan. Sebagai catatan tidak ada angkutan umum menuju pulau tersebut. Selanjutnya menyebrangi Sendang Biru menuju teluk semut dengan waktu tempuh 10 menit menggunakan perahu motor nelayan dengan biaya 100 ribu untuk satu perahu.
Pulau sempu memiliki laguna segara anakan yang sangat menawan dengan pasir pantainya yang putih dan airnya yang jernih serta tebing tebing karang yang ada disekitar pantai memberikan pemandangan yang sangat indah.



Jumat, 5 Oktober 2012

Joyogrand – Pantai Sendang Biru
Setelah menempuh perjalanan 2 jam ahirnya kami sampai di pantai sendang biru pukul 09.00, saya dan ikmal segera mengurus tiket masuk dan membeli cumi di pasar ikan sendang biru untuk makan malam sedangkan harpa mengurusi perijinan bermalam di segara anakan sisanya mencari perahu untuk menyebrang. Lengkap sudah perizinan dan barang bawaan, ahirnya kita menyebrangi sendang biru dengan menggunakan perahu motor nelayan. Cukup 10 menit kita sudah sampai di teluk semut, jalan utama menuju laguna segara anakan.









Teluk Semut – Segara Anakan
Perjalanan menuju segara anakan dimulai dari teluk semut dan memasuki hutan. Trek awal yang dipenuhi dengan akar dan ranting yang menjalar di jalanan serta pohon pohon tumbang yang melintas di tengah jalan harus kita lewati, sesekali menanjak dan turun dengan kontur tanah yang kering namun jika hujan lumpurnya bisa selutut dan sangat licin, Alhamdulilah cuaca saat itu sangat cerah dan mempermudah perjalanan kami. 

Teluk Semut








Porter Kami 

Ditengah perjalanan kami beristirahat, harpa berlagak macam orang pingsan yang tiduran di tengah jalan karena lelahnya membawa sekardus air mineral dan para lelaki harus bergantian mengangkat dua kardus air minum tsb. Sebagai catatan jika ingin bermalam di segara anakan lebih baik membawa persediaan air minum yang cukup untuk kebutuhan selama disana karena tidak adanya sumber mata air payau. Kurang dari 2 jam kami sampai di segara anakan, rasa lelah sedikit terbayar ketika melihat birunya air segara anakan. Namun sayang, pulau sempu yang sudah mulai dikenal banyak orang mulai tercemar dengan sampah para wisatawan yang kurang peduli dengan kelanjutan alam pulau sempu. Beruntunglah masih ada yang peduli dengan kebersihan pulau sempu, disana kami bertemu dengan pencinta alam yang membersihkan sampah di area sekitar segara anakan dan membawa sampahnya ke sendang biru.












Hah berleyeh leyeh sejenak, sebagian yang beristirahat dan sisanya menyiapkan makanan untuk makan siang.  Makan siang seadanya yang dinikmati di alam akan terasa begitu nikmat dalam kebersamaannya.
Setelah makan siang waktunya kami bermain air, niat hati mau mancing dan berekspetasi dapet ikan untuk makan malam namun hasilnya nihil. Ikmal lebih tergoda untuk main air dibandingkan memancing.





Nutrijel Ala Chef Devi
Dari kejauhan terlihat gerombolan kera ekor panjang yang menghampiri tas kami dan mengambil cemilan serta sisa makanan kami. Dengan spontan harpa dan lainnya mengejar kera tersebut yang lari menjauh. Kera kera itu menjadi bahan tontonan kita hingga menjelang sore. Setelah dirasa aman, kami membuka tenda kemudian para lelaki mencari kayu bakar untuk api unggun sedangkan saya dan devi sibuk mempersiapkan cumi bakar untuk makan malam.





Malamnya, dengan bumbu seadanya karena bumbu bakar kami ilang di ambil kera atau terjatuh, ikmal dan beni memulai membakar cumi. Dengan metode pengasapan dan pembakaran, cumi bakar siap disajikan untuk makan malam.  Setelah kenyang kami bercengkrama beralaskan banner capres gagal dan beratapkan sedikit bintang bintang hingga larut malam sampai tertidur. Sempat terbangun karena gerimis sebentar dan kami melanjutkan tidur diluar tenda berselimutkan sleepingbag, dengan optimisnya kita yang berfikir gerimisnya sebentar, ahirnya kami pindah ke dalam tenda sekitar pukul 04.00 karena hujan yang sangat deras.  


















Sabtu, 6 Oktober 2012

Segara Anakan - Sendang Biru - Malang
Cuaca pagi itu tidak mendukung kami untuk bermain air, hujan sisa semalam masih awet hingga keesokan. Disaat orang orang ditenda yang lain sibuk diluar untuk bermain air dan hujan hujanan, kami memilih untuk tidur didalam tenda. Betul betul tenda yang malas, sampai kami keluar pun menggunakan payung hingga ditertawai yang lain.
Beruntung ada juru masak ikmal yang memasak makanan untuk sarapan di sela sela hujan turun. Kami menikmati sarapan pagi itu seadanya, sarden dan mie goreng menjadi tenaga kita untuk pulang. Dilanjutkan dengan packing dan bersih bersih, kami siap untuk pulang. Ada kejadian yang tidak diinginkan saat kita mau pulang, ilangnya kunci motor serta hape mantong dan harpa. Saat dicari cari kembali ahirnya ketemulah kunci motor mantong di semak semak tapi tidak berlaku untuk hape harpa dan mantong. Dengan wajah yang lesu sebelum pulang kami mengabadikan moment bersama dan beruntungnya menyaksikan lincahnya lumba lumba melompat lompat di lepas samudera hindia, harpa dan mantong mencoba mengikhlaskan hapenya.






Beruntung kita datang hari Jumat, hanya beberapa tenda saja yang bermalam saat itu berbeda saat kita mau pulang yang sangat ramai sekali. Tidak heran wisatawan yang datang ke pulau sempu saat libur akhir pekan sangat ramai dibanding hari biasanya yang ingin bermalam atau sekedar menikmati pesona alam segara anakan. Dan jalanan sewaktu pulang yang sedikit licin karena guyuran hujan dari semalam membuat kami lebih berhati hati, tidak butuh waktu lama untuk perjalanan pulang menuju teluk semut, cukup satu setengah jam kami sampai di teluk semut dan menunggu jemputan perahu.






Berlatar Samudera Hindia



Tibanya di sendang biru kami beristirahat sejenak di bawah pohon sambil menikmati es kelapa dan makan siang sambil menunggu teman lainya yang sedang mandi dan berganti pakaian. Setelah semuanya siap kami melanjutkan perjalanan menuju malang dengan cuaca yang mendung, berdoa jangan dulu turun hujan sampai kami tiba di malang, kemudian mengembalikan alat alat ke Dorent dan pulang ke kontrakan. Kabar baik sesampainya di kontrakan ternyata hape mantong terselip di bagian tas depan devi bercampur pembalut kotornya sedangkan hape harpa diketemukan keesokanya di tas devi, padahal sebelumnya udah digeledah isi tas devi dan hasilnya nihil. Nah loh?

Alam akan memberikan ketenangan dengan segala keindahannya dan memberikan kedamaian dengan segala kekuatannya. Percaya atau tidak masih ada dimensi lain  yang mesti kita hormati seiring menghormati dan menjaga kelangsungan alam sekitar. Bijaklah dalam berkata dan janganlah bersikap angkuh terhadap alam sekitar. 

2 comments:

  1. Bukannya sempu ga boleh untuk umum ya, bro?

    ReplyDelete
  2. Memang untuk konservasi, dan kita sudah ijin masuk kawasan dengan polisi hutan disana mas.

    ReplyDelete