![]() |
| Yogyakarta, 23 Oktober 2015 |
Semua hal dalam hidup akan berubah pada waktunya. Perubahan diseimbangkan oleh waktu itu sendiri. Aku sudah lama tidak menulis dan membaca buku. Rasanya seperti patah hati karena terpisah dari inspirasi. Tumpukan buku-buku baru yang kubeli sejak setahun belakang ini pun sebagian rusak, oleh rayap dan belum terbaca. Karena lama aku tinggal.
Lalu karena alasan begitu, aku mencari-cari inspirasi. Sibuk mencari hal yang tak dapat diraba. Aku memilih cara mencari dengan berpetualang, berjalan lebih jauh. Ya, bergerak mencari hal-hal yang hilang dalam diri.
Pernah suatu waktu di belahan Pulau Dewata, masih pada sebuah petualangan mencari. Karena sudah satu bulan lamanya aku berjalan jauh sampai merasa aku ingin pulang. Fisik ini ingin tetap tinggal melangkah lebih jauh, tidak untuk jiwanya.
Namun, itu tadi. Pulang kemana?
Aku ingin mengubah suasana hati. Ingin mendamaikan diri sendiri. Benar-benar hidup menikmati waktu yang tak pernah bersedia tetap tinggal.
Jogja, jogja, jogja.
Kota yang menjadi rumah bagi banyak rindu, dan juga kepulangan.
Kota yang menjadi rumah bagi banyak rindu, dan juga kepulangan.
Selalu ada yang memanggil untuk kembali pulang.
Pada suatu senja, saat hati ini ingin pulang sekali aku bergegas ke stasiun di tengah kota untuk membeli langsung tiket tujuan kota pelajar, membelah jalanan ibu kota dengan hiruk pikuknya kemacetan.
Entah keberuntungan atau apapun itu. Saat itu aku masih dalam antrian loket dan kereta yang mau aku tumpangi akan berangkat 10 menit kemudian. Sampai pada giliranku, dan ternyata masih ada jatah kursi dan waktu untukku berlari sampai ke peron.
Aku berlari, dengan beban isi ranselku dan koper seorang ibu yang mulai menua.
Ibu itu sungkan kopernya kubawakan, dia memanggil seorang portir.
"Tak usah bu, biar saya saja yang bawakan. Ibu lebih baik jalan cepat, keretanya sudah mau berangkat bu" sautku.
Sampai berdiri depan pintu gerbong, selangkah lagi masuk kereta itu berjalan dan diberhentikan dengan bunyi peluit petugas kereta yang berjaga di depan pintu gerbong. Puji syukur.
Sampai ahirnya alas kakiku ini menginjakkan di stasiun yang tak awam lagi "Stasiun Jogjakarta"
Selalu ada energi positif tersendiri saat menghirup udara pagi kota yang melahirkan banyak seniman itu. Aku tak berlebihan, untuk orang-orang yang pernah merantau lama di Jogja pasti mengiyakan hal yang sama.
Ah, sudah sudah.
Aku memang selalu menikmati segala kejutan dalam perjalanan panjangku. Kunikmati dan kubawa pulang untuk kelak diceritakan.
Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Karena rumah untuk semua kepulangan adalah diri sendiri. Ya, aku masih belajar merangkak untuk berdamai dengan diri sendiri. Agar tau, kapan dan kemana akan pulang.
Lalu aku rindu menulis lagi. Baru sempat menulis lagi.
Aku yang disibukkan dengan masa kini.
Waktu mengirimkan rasa ini untuk aku menulis lagi. Menuliskan perjalanan dan kepulangan rasa selama berjalan jauh.
Entah, mungkin menulis jugalah yang akan mengembalikanku kepada petualangan lain,
petualangan merealisasikan mimpi.
Semoga.
Jakarta, 04.45

No comments:
Post a Comment