Perempuan Angin

Perempuan Angin

January 16, 2016

a thought

I am wild.
Dirty feet, i run barefoot through woods and rainforests. Open fields and secret water streams.
Alone with the sound of my breathing and the wind roaring in my ears.

I am wild.
Knotted hair, brushing gently across my face, it dances in the wind and rain.
Twigs, leaves and flowers hitch rides across the country side.

I am wild.
The stars call out to me, a part of me is out there. My essence, my purpose, my divine connection.
An infinite sky, forever changing, flowing, being, stillness.
Solitude, icy hands and a smokey breath. Let my bones charge in the morning sun light.
Always alone, but i will be free anyway and alive.

I am wild, Tribe of Gaia.

I feel others' feeling as if they were my own. Their pain, their joy, their way. In the end, only time will answer everything. We'll just end up with peace, happiness, pain or regret.
Time provides you and you decide.
Please, don't try fix me as you desire. The way is beautiful to me. I could see that is possible and all that I thru. Whilst other see all that is right and wrong and the reason why.
Please don't try to fix me. I could see..


Jakarta, 17.10

January 15, 2016

Pulang


Yogyakarta, 23 Oktober 2015
Semua hal dalam hidup akan berubah pada waktunya. Perubahan diseimbangkan oleh waktu itu sendiri. Aku sudah lama tidak menulis dan membaca buku. Rasanya seperti patah hati karena terpisah dari inspirasi. Tumpukan buku-buku baru yang kubeli sejak setahun belakang ini pun sebagian rusak, oleh rayap dan belum terbaca. Karena lama aku tinggal.

Lalu karena alasan begitu, aku mencari-cari inspirasi. Sibuk mencari hal yang tak dapat diraba. Aku memilih cara mencari dengan berpetualang, berjalan lebih jauh. Ya, bergerak mencari hal-hal yang hilang dalam diri.

Pernah suatu waktu di belahan Pulau Dewata, masih pada sebuah petualangan mencari. Karena sudah satu bulan lamanya aku berjalan jauh sampai merasa aku ingin pulang. Fisik ini ingin tetap tinggal melangkah lebih jauh, tidak untuk jiwanya.
Namun, itu tadi. Pulang kemana?
Aku ingin mengubah suasana hati. Ingin mendamaikan diri sendiri. Benar-benar hidup menikmati waktu yang tak pernah bersedia tetap tinggal.



Jogja, jogja, jogja.
Kota yang menjadi rumah bagi banyak rindu, dan juga kepulangan.
Selalu ada yang memanggil untuk kembali pulang.

Pada suatu senja, saat hati ini ingin pulang sekali aku bergegas ke stasiun di tengah kota untuk membeli langsung tiket tujuan kota pelajar, membelah jalanan ibu kota dengan hiruk pikuknya kemacetan.
Entah keberuntungan atau apapun itu. Saat itu aku masih dalam antrian loket dan kereta yang mau aku tumpangi akan berangkat 10 menit kemudian. Sampai pada giliranku, dan ternyata masih ada jatah kursi dan waktu untukku berlari sampai ke peron.
Aku berlari, dengan beban isi ranselku dan koper seorang ibu yang mulai menua.
Ibu itu sungkan kopernya kubawakan, dia memanggil seorang portir.
"Tak usah bu, biar saya saja yang bawakan. Ibu lebih baik jalan cepat, keretanya sudah mau berangkat bu" sautku. 
Sampai berdiri depan pintu gerbong, selangkah lagi masuk kereta itu berjalan dan diberhentikan dengan bunyi peluit petugas kereta yang berjaga di depan pintu gerbong. Puji syukur.
Sampai ahirnya alas kakiku ini menginjakkan di stasiun yang tak awam lagi "Stasiun Jogjakarta"
Selalu ada energi positif tersendiri saat menghirup udara pagi kota yang melahirkan banyak seniman itu. Aku tak berlebihan, untuk orang-orang yang pernah merantau lama di Jogja pasti mengiyakan hal yang sama.

Ah, sudah sudah.
Aku memang selalu menikmati segala kejutan dalam perjalanan panjangku. Kunikmati dan kubawa pulang untuk kelak diceritakan. 
Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Karena rumah untuk semua kepulangan adalah diri sendiri. Ya, aku masih belajar merangkak untuk berdamai dengan diri sendiri. Agar tau, kapan dan kemana akan pulang.

Lalu aku rindu menulis lagi. Baru sempat menulis lagi.
Aku yang disibukkan dengan masa kini.
Waktu mengirimkan rasa ini untuk aku menulis lagi. Menuliskan perjalanan dan kepulangan rasa selama berjalan jauh.
Entah, mungkin menulis jugalah yang akan mengembalikanku kepada petualangan lain,
petualangan merealisasikan mimpi.
Semoga.


Jakarta, 04.45

June 16, 2013

Cahaya Bulan

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang
disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
kenapa matahari terbit menghangatkan bumi
aku orang malam yang membicarakan terang
aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang
perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya
disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi
aku orang malam yang membicarakan terang
aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang

cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yang takkan pernah aku tau
dimana jawaban itu
bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi
sudah waktunya berdiri
mencari jawaban kegelisahan hati

terangi dengan cinta di gelapku
ketakutan melumpuhkanku
terangi dengan cinta disesatku
dimana jawaban itu

April 9, 2013

Dua Malam di Gunung Papandayan

Sekilas Tentang Gunung Papandayan
Gunung Papandayan merupakan gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Kecamatan Cisurupan, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2665 ini memiliki komplek kawah yang aktif dan mengeluarkan asap belerang. Keindahan komplek kawahnya, hutan mati, pondok salada, tebing curam & tinggi, tegal alun tak kan ada habisnya.
Untuk menuju gunung papandayan dapat menggunakan bus langsung dari Kp. Rambutan menuju Terminal Guntur dengan kisaran biaya 30-35 ribu/org  dan dilanjutkan naik angkutan umum ke pertigaan Cisurupan 6rb. Selanjutnya naik ojek (20-25ribu) atau dengan mobil terbuka 15rb/org sampai pintu masuk.

Hutan Mati
22 Februari 2013
“Jadi kita berangkat cuma bertiga nih?.....” dan semesta berkata lain.
Sore yang cerah, menemani Dimas Askinding a.k.a Cidek ke pasar untuk belanja persediaan kedainya dan berbelanja kebutuhan logistik selama digunung. Tak lama menuju rumah goldy untuk repacking dan meeting point disana. Packing tak kunjung kelar rasanya, semua alat dan logistik mau dibawa, sampe kasur lipet milik nona Johar yang katanya buat leyeh leyeh saat ngecamp mau dibawain sama goldy sukses ditinggal dalam mobil, 



Carrier dan daypack sudah masuk kedalam mobil, persiapan sudah oke dan tiba tiba.
“Bang, jangan naik gunung gitu cuacanya lagi buruk …………” ujar Mama Goldy
Pikir beliau hanya kemping di tempat camp biasa gapake naik bukit dan ahirnya abang goldy pun mulai menjelaskan ke ibunya perlahan. Oke, dapet izin asal naik bareng rombongan lain atau yang sudah tau jalan. Mimik wajah goldy pun berubah seketika, bingung mengiyakan.

Ba’da maghrib. Saya, goldy, nona, dimas, jofino dan fanny pun memulai perjalanan. Diawali pemberhentian pertama di wakidi untuk mengisi perut terlebih dahulu dan fici pun melaju hingga ± 200km sampai pintu masuk utama kawasan papandayan memakan waktu 6,5 jam perjalanan. Ditengah perjalanan menuju pintu masuk, tak habisnya istighfar, jalanan rusak tengah hutan dengan bonus pemandangan kota garut yang aduhai. Muncul ketakutan ban nyelip di tengah hutan, puji syukur supir berlisensi legal Jofino bisa mengatasinya sampai area parkir.

23 Februari 2013
Tiba basecamp pukul 2.30 pagi dan pos pendakian pun tutup, kami memutuskan beristirahat sejenak menunggu sang fajar di dalam mobil dengan desiran angin yang kencang.
“Gue merem sama melek sama aja, sama sama gelap” Celetuk Jofino.
Semuanya tertawa kemudian hening, menikmati kegelapan dan memaksakan untuk tidur.

                       


Panggilan alam selalu membangunkanku lebih awal, tapi angin kencang diluar mengurungkan niatku. Beberapa pendaki pun mulai berdatangan, setelah mendaftar mereka langsung naik, sedangkan kami masih repacking kembali dan mendaftar di pos pendakian membayar uang masuk yang sukarela ditambah 20 ribu uang penitipan mobil untuk semalam, selembar 50 ribu kami keluarkan semuanya untuk 6 orang.



Usai doa sebelum perjalanan, pukul 7.25 kami pun mulai melangkahkan kaki lebih jauh menuju jalur pendakian. Baru awal perjalanan sudah disuguhkan indahnya tebing tebing curam dan bau belerang yang sangat menyengat. Jangan lupa menggunakan masker dan basahi dengan air sebelumnya. Jalur menuju pondok salada ada 2, setelah mengikuti jalur motor trail yang ada sampai di pertigaan jalur ke kiri jalur terjal untuk melewati hutan mati dan jalur landai ke kanan untuk langsung ke pondok salada.



Kami memilih kiri jalur terjal yang sebagian ditumbuhi vegetasi pohon cantigi, jalur yang menguras tenaga namun sampainya di hutan mati disuguhkan potret bencana yang melahirkan keindahan alam yang luar biasa. Tak hentinya mengucapkan subhanallah….
Setelah melepas lelah perjalanan dilanjutkan menuju pondok salada dan bergabung dengan rombongan Jakarta mengikuti arah petunjuk yang ada sampai bertemu bunga abadi dan melewati kubangan kubangan air. Tibalah di pondok salada pukul 10.30, kemudian mendirikan tenda dan mulai mengepulkan asap dapur.



Bentang Alam Hutan Mati
Sore berkabut kami nikmati untuk leyeh leyeh dalam tenda dengan suhu udara yang semakin dingin. Cuaca ekstrem saat itu mengakibatkan terjadinya angin badai dikawasan gunung papandayan. Malamnya kami berpatroli ke tenda tetangga tetangga sekedar untuk menyapa bercengkrama dan berujung bermain ABC 5 dasar sampai lelah tawa mengahiri. Gerimis menemani sampai pagi..




24 Februari 2013
“Jo, lo tidur ngigo parah kedinginan sampe menggigil pula, watir siah aing. Tau kondisi semalem lu gitu mending sekarang gausah naik ampe atas” Jopino ngoceh.
Pagi pagi jofino udah heboh nyeritain ngigonya saya malem itu, ga sadar sih tapi emang saat itu kondisi saya sedang tidak fit, flu berat bercampur sakit kepala dan memaksakan naik. Padahal jofino juga gak kalah menggigilnya malem itu sampe tremor, tidur tanpa sleeping bag. 
Kapok ya, Jop? hahaha
Seduhan kopi pertama pagi itu, manis sambil menikmati potret pagi pondok salada dan bunga abadi yang diselimuti bulir es. Dan taraaa, sedang asik mengepulkan asap dapur kita kehabisan gas. Cideuk pun langsung berburu gas ke tenda seberang, tendanya bang oji. Gerimis dan berkabutnya cuaca pagi itu ahirnya kami mengurungkan niat untuk ngetrek pagi ke tegal alun. Santai dulu lur enjoy dulu, goldy dan cideuk pun mencoba mandi pake air gunung dibalas gelengan kepala jopino yang cukup dengan tremornya semalem, pecah tawa kami.

Bunga abadi pondok salada diselimuti bulir es
Pukul 9.15 kami bergabung dengan rombongan Jakarta (dewi, bang tiar dan 2 rekannya) dan rombongan garut (bang oji, opi, fahmi) menuju tegal alun hanya membawa logistik dan peralatan yang diperlukan sisanya ditinggal dalam tenda, sempat salah jalan menuju hutan mati bukannya melipir ke kanan dari kubangan air itu.

Jofino, Fanny, Cidek, Bang Oji, Opi, Saya, Goldi, Fahmi

Naik gunung juga ngantri bung
Jalur yang basah dan lengket karena kontur tanah yang bercampur batuan kapur dan menanjak memperlambat ritme kami, sesekali angin kencang menggoyahkan badan ini. Sakit kepala dan flu berat memperparah kondisi saya, terkadang gak fokus dan kepleset beruntung ada jofino yang siap tahan tubuh saya dari belakang.
Kenapa juga gak ngikutin jalur cideuk dan bang oji yang memotong jalan, mereka sampai terlebih dahulu menunggu kita di puncak nangklak sedangkan saya dan lainnya masih mengantri untuk naik.
Pukul 11.30 sampailah di tegal alun, sejauh mata memandang bunga abadi memperlihatkan kecantikannya. Indonesia miniaturnya surga bung, sayang jika dilewatkan!


Dari Puncak Nangklak
Halo tegal alun
Panorama Tegal Alun
Tak lama kami menikmati eloknya tegal alun, pukul 13.10 kami bersiap kembali ke pondok salada. Mengikuti jalur sewaktu berangkat dan tanda yang sebelumnya telah dibuat namun bertemu kembali dengan bunga abadi, ah rupanya kita salah jalan.  
Kembali lagi menelusuri jalan sebelumnya dan kami tidak menemukan tanda yg sebelumnya telah dibuat. Ahirnya salah satu rombongan membuka jalur dan ternyata menemukan aliran sungai. Jalurnya lebih terjal batu batu besar, dan pondok salada terlihat jelas dari atas. Sampai di pondok salada pukul 14.45 beres beres tenda, dan ciwi ciwi kece nona & fanny masak untuk bekal energi pulang. Tim bang oji dari garut pamit turun duluan, sedangkan saya turun bareng rombongan bang tiar. 

Come as strangers, left as brothers
jalur air

Selalu ada cara Tuhan menegur hambanya, ditengah perjalanan turun dan hendak istirahat disungai, saya terpleset dan kepala saya terjatuh di tengah himpitan batu besar, tenggelam dalam air. Saat yang lainnya panik mencemaskan, saya bangun dan terengap engap karena tertelan air sungai sambil tertawa gelagap. HAHAHAHA dingin bro air sungainya.
.


Beratapkan langit gelap kami tiba di pos pendakian pukul 6 petang, melapor terlebih dahulu membereskan barang barang ke dalam mobil dan pamit duluan dengan tim bang tiar.
Fisik ahirnya tumbang, setelah jakpot saya memilih meminum antimo dan tertidur pulas sampai bogor.

We see you soon!
"We enter the mountain as stranger & left the mountain as brother"
Terimakasih Papandayan atas keindahan dan keelokan semestamu. Selalu ada kejutan dan cerita dibalik sebuah perjalanan. Terimakasih Fici, Goldy, Cideuk, Jofino, Nona, Fani, Bang Oji dkk, Bang Tiar dkk dan yang lainnya atas momennya. Sampai bertemu di rekam jejak perjalanan lainnya. 
“There is no end to the adventures that we can have
Little Note: "Bagi yang membawa kendaraan pribadi, sebelumnya dipersiapkan kondisi mobil yang fit dan bisa untuk jalanan rusak karena jalan dari gerbang cisurupan sampai ke pos pendakian lumayan offroad dan ektsrem. Terlebih jika melakukan perjalanan malam hari, keep safely the journey "

April 7, 2013

nobody wants to be alone

First, you will love.
You will enjoy the beauty of quiteness, the freedom from responsibilities. You will love how you do things only for yourself. But then you will realize that nobody cares about you, you will miss talking to people. You will miss the arguments and you will even miss the simple hellos. And at the end, you will return to the real world and say you hate loneliness.
is it life circle feeling?

One good time,

Get involved deeply conversation with Eyad Essam

December 5, 2012

Bahagia Itu Sederhana

Setiap orang pasti punya definisi masing masing dari kata bahagia entah dalam ranah relatif ataupun subjektif. Ada situasi disaat orang itu bilang musibah dan disisi lain itu bilang anugerah.

Secara situsional, saya bisa bahagia hanya dengan menghabiskan waktu dengan keluarga, memandangi langit malam yang bertaburan bintang, menghabiskan waktu malam di angkringan atau warung kopi, jalan jalan sendirian di malioboro, melihat rintik hujan, mengelilingi kota Jogja, membaca buku dengan segelas teh, memperhatikan orang orang yang berlalu lalang, menikmati macam macam kuliner, atau sekedar kemping di alam terbuka.
Tak dapat dipungkiri kita pun pernah merasakan bosan, kesal, tak semangat bangun dari tempat tidur untuk melewati rutinitas hari-hari. Wajar saja, namun tidak untuk terbiasa.

Terlepas dari itu semua, lambat laun saya mulai belajar untuk memaknai makna bahagia dalam harfiah yang sederhana. Belajar untuk tidak mengkondisikan bahagia dalam bentuk apapun.
Apa sih bahagia itu sebenarnya?
Definisi bahagia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia;
bahagia/ba·ha·gia/ 1 n keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). 2 aberuntung; berbahagia.
berbahagia/ber·ba·ha·gia/ a 1 dalam keadaan bahagia. 2 v menikmati kebahagiaan.
membahagiakan/mem·ba·ha·gi·a·kan/ v 1 menjadikan (membuat) bahagia 2 mendatangkan rasa bahagia.
kebahagiaan/ke·ba·ha·gi·a·an/ n kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin.

Lalu, saya menyadarinya..
Kadang manusia selalu mencari-cari kebahagiaan, padahal kebahagiaan itu sudah ada di depan mata atau bahkan kita sedang menggegam erat kebahagiaan itu tanpa kita betul-betul tak menyadarinya.

Karena sebenarnya semua hal dalam kehidupan kita di dunia ini bisa diliputi oleh kebahagian tergantung kita dalam menyikapinya. Bahagia itu adanya dari kita sendiri bukan dari mereka atau orang lain. So lets happy for no reason guys.

mengingatkan untuk diri sendiri, jika nanti saya merasa bosan atau kurang bersemangat. Diamlah sesaat, jangan paksakan diri sendiri atau bangun lebih pagi. Lihat apa yang ada di sekitar, syukuri hal-hal yang sederhana. Menghela napas panjang.
Percayalah esok akan lebih baik dan ingat bahwa saya orang yang beruntung dan penuh kebahagiaan.

Dan saat menulis tulisan ini, saya sedang berbahagia. Duduk di tengah ramainya warung kopi.
Dengan perbincangan isi kepala yang tak ada habisnya.


Jogja, 04.00

November 26, 2012

Simple Power of Smile

What do u think about smile? 
As i know smile is change a facial expression by spreading the lips to signal pleasure and it takes less facial muscles to make someone smile than frown. Some experts claim that need 43 muscles to frown and only 17 muscles to smile. 
Smile has the power to radiate the qualities that make you beautiful on the inside, kindness, respect & self control. Just try to smile when you are among strangers is the best way to invite them to get to know you. Your face is the first thing people look at when they meet you for the first time and smile sends a message that you are friendly and easy going. So why not let it show what a great person you are with give your smile power.

Here are some benefit that can get a person with a smile;
  • Smiling makes a person more attractive because there is a certain attraction factor and make someone look better than frown and wrinkle.
  • Smiling can trick the body so that helps a person to change for the better mood. Therefore if you feel sad and badmood, just try to smile it can reduce unwell mood.
  • Smiling not only change the mood of the person but also can be contagious people around us and bring happiness to others. 
  • Smiling helps the immune system to work better when someone smile at the increase immune function that makes a person feel more relaxed.
Thus be a beautiful in your heart by being simple smiling doesn't have to be expensive with make up, jewelry or  expensive clothes. You are best to urself when you are good to others. Do all the good you can, as long as ever you can. At least starting your day with smile & let us always meet each other with smile, for the smile is the beggining of love. So spread your love everywhere you go. XOXO

This article was created by me to satisfy my final exam public speaking in Pare, Kampung Inggris circa May 2012.

October 18, 2012

Pendakian Gunung Semeru

Biarkan keyakinan kamu, 5 cm menggantung mengambang didepan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya. Serta mulut yang akan selalu berdoa. Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan cuma seonggok daging yang hanya punya nama. Percaya pada 5 centimeter didepan kening kamu
Begitulah kutipan dari novel 5 cm yang pernah saya baca pertama kalinya waktu sekolah menengah atas, dari tulisaannya yang syarat akan motivasi. Dan berawal dari novel tersebutlah saya mulai penasaran dengan dinginnya ranukumbolo, mitosnya tanjakan cinta, syahdunya oro-oro ombo, dan puncaknya para dewa. Perlahan itu semua akan terjawab...


---------------------------------------------------------------***-----------------------------------------------------

Sekilas Tentang Gunung Semeru

Gunung semeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa dengan puncaknya Mahameru 3676 meter diatas permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloka dan danau tertinggi di Gunung Semeru adalah Danau Ranukumbulo (2400 mdpl). Gunung ini terletak di daerah Kabupaten Malang dan Lumajang, masuk dalam area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Dibutuhkan waktu sekitar empat hari untuk mendaki sampai ke puncak Mahameru pulang pergi. Untuk mendaki gunung ini bisa melewati Kota Malang dan Lumajang, namun biasanya para pendaki lebih sering melewati Kota Malang. Dari Terminal Kota Malang Arjosari naik angkutan umum sampai pasar tumpang dengan biaya Rp 10.000 per orang, disambung lagi naik jeep atau truk sayuran/pupuk dari pasar tumpang menuju desa ranu pani dengan kisaran biaya, jeep Rp 35.000 per orang sedangkan truk sayuran/pupuk Rp 30.000 per orang dengan prinsip semakin banyak rombongan bisa dapat harga lebih murah. Dipasar tumpang ini kita bisa berbelanja keperluan logistik untuk pendakian. Surat izin pendakian bisa di urus di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II (SPTN II) di Tumpang dengan nomor telpon (0341) 787972 atau di kantor Resort Pengelolaan Taman Nasional di wilayah Ranu Pani (0341) 491828 dengan perincian karcis masuk TNBTS Rp 1.250,- per orang, Iuran asuransi Rp 2.000 per orang, materai surat izin Rp 6.000, membawa kamera dikenakan biaya Rp 5.000 per kamera. Persyaratan yang wajib dilengkapi yaitu: fotocopy identitas diri, surat keterangan sehat, mengisi biodata semua peserta pendakian, mengisi buku tamu (nama ketua kelompok, jumlah pengikut, tanggal naik & turun) dan mengisi formulir daftar barang bawaan. Di pos ranu pani juga terdapat 2 buah danau yaitu danau ranu pani dan danau ranu Regulo dengan ketinggian 2100 mdpl.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Joyo Grand-Tumpang-Ranupani
Ahirnya impian saya 5 tahun yang lalu akan selangkah terealisasikan menginjakkan kaki di semeru dengan ditemani teman yang kuliah di Brawijaya, harpa dan nita teman kampusnya. Setelah menempuh perjalanan 1 jam dari kontrakan joyo grand sampai di pasar tumpang sekitar pukul 7.20 dengan diantar Devi & Ikmal, kami melanjutkan perjalanan ke desa ranupani dengan menggunakan truk pupuk milik bapak teguh (085815042267) biaya 100 ribu untuk 3 orang.. 
Perjalanaan 2 jam dari tumpang sampai ranupani yang melewati jalan yang berkelok kelok berdebu dan tanjakan yang curam sampai memasuki hutan konservasi TNBTS, berulang kali kepala kami terantuk ranting ranting pohon yang menjalar di atas kepala.





Dan akhirnya kami sampai di Resort Pengelolaan Taman Nasional Ranu pani untuk pos pemeriksaan, ada warung warung makan dan pondok penginapan di sekitar area pos. 
Saya dan harpa segera mengurus surat perizinan bertemu dengan Pak Ningot sinambela yang mengurusi bagian perizinan, pesan yang selalu saya ingat dari beliau “Jaga ego masing masing, jangan tinggalkan temannya sendiri tetap berjalan bersama timnya dan selalu hati hati”.
Lengkap sudah perizinan kami melanjutkan ke resort ranu regulo yang jaraknya ± 100m dari pos perizinan bertemu temannya Harpa untuk membantu packing ulang.

Ranupani-Landengan Dowo-Pos 1
Pukul 13.30 akhirnya kami memulai pendakian, melewati jalanan aspal dengan pemandangan kiri kanan lereng bukit yang ditanami sayuran, sampai juga di gapura “ Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru” setelah gapura jalanan tanah dan berdebu ikuti jalur ke kiri terus ke arah bukit dengan petunjuk papan “jalan semeru” jangan mengikuti jalur yang lebar menuju ke kebun penduduk.




Jalur awal yang landai menyusuri jalan setapak pavingan blok yang didominasi oleh alang alang dan banyak terdapat pohon tumbang serta ranting ranting di atas kepala. Sampailah kami di pos 1 pukul 15.40, istirahat sejenak di pos ini harpa dan nita bertemu teman teman kampusnya. Akhirnya kami pamit duluan meneruskan perjalanan, menyusuri lereng bukit yang berkelok, menikmati setiap langkah & pemandangan yang indah ke arah lembah dan bukit bukit yang ditumbuhi pohon cemara pinus serta menyaksikan puncak mahameru dari kejauhan, Subhanallah.



Harpa dan Mahameru
Pos 2- Jembatan
Langkah demi langkah sampailah di pos 2 yang mulai gelap, istirahat sejenak meneguk air untuk membasahi kerongkongan yang kering dan menyeka keringat yang sudah bersahabat dengan badan ini sejak awal pendakian. Melanjutkan perjalanan yang semakin gelap, kami mengeluarkan alat penerangan senter sampai ahirnya harpa nyeletuk “ Kalo ada yang kentut  bilang ya” mungkin kita bertiga punya perasaan yang sama, sama sama takut dengan perjalanan yang mulai gelap dengan tim hanya 3 orang tapi tetap merasa sok tegar semuanya hahaha. Ini pendakian perdananya harpa untuk naik gunung dan temannya nita udah naik semeru 2 kali dan baru pertamanya gendong keril sama ngetrack malam. Oke bonus untuk kami ngetrack malam dengan udara dingin yang mulai mengusap halus tulang tulang kami. Harpa sebagai ketua pendakian mau ga mau ambil keputusan karena dia bertanggung jawab besar atas 2 cewek sebagai pengikutnya. Ahirnya kita istirahat sejenak waktu maghrib dan menunggu teman harpa yang tertinggal jauh dibelakang kita, mulai terlihat sorotan lampu headlamp mereka dari kejauhan tetapi tak banyak bergerak. Kurang lebih 2 jam kami menunggu mereka sampai tubuh ini tidak bisa kompromi lagi dengan dinginnya udara malam itu. Solusinya adalah melanjutkan perjalanan karena tubuh ini harus banyak bergerak, belum terlalu jauh kami melanjutkan perjalanan sampai di jembatan mengatur napas sejenak dan sorotan cahaya headlamp itu semakin dekat. Harpa meneriaki salah satu teman mereka dan alhamdulilah ada respon dari mereka. Dia menghampiri temannya dan membawakan salah satu keril dari mereka, anggota tim mereka yang sakit bertambah satu, dan yang lainnya sudah merasa lelah karena bergantian membawa 2 keril setelah pos 1. Harpa memutuskan membawakan salah satu keril mereka sampai ranukumbolo. Ahirnya kita bergabung menjadi satu tim, sesaat kita meluruskan otot dan saraf yang mulai kedinginan dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan kembali. Saya berjalan dibagian depan dilanjuti oleh 2 cewek, Anggrek dan Nita dan 5 cowok berikutnya Mukhlis, Mas Kur, Rifqy, Uki dan Harpa.

Pos 3- Pos 4-Ranukumbolo
Sampai di pos 3 terdapat pos dengan atap yang sudah rubuh, mengatur napas sejenak dan mulai menanjaki tanjakan yang lumayan terjal.
Jalan 10-20 langkah istirahat sejenak sampai pada klimaksnya mendekati pos 4 yang membawa 2 keril benar benar lelah dan minta istirahat 5 menit. Dalam keadaan yang subhanallah dinginnya sekitar pukul 22.30 harpa dan yang lainnya tertidur beberapa detik. Perjalanan harus segera dilanjutkan karena semakin tipisnya oksigen. Sorotan cahaya dari camping ground ranukumbulo sudah terlihat, melewati pos 4 terlebih dahulu dan melipir menuruni bukit. Rasanya dengkul ini sudah lemas dan kedinginan tak kuat menahan beban daypack dan keril yang saya bawa.
Sampai di bawah pukul 23.20 kami semua memutuskan untuk buka tenda dan melanjutkan ke camping ground ranukumbolo besok. Bonus lagi, pasak tenda kita hilang mungkin terjatuh saat kita ambil makanan sewaktu istirahat. Alhasil kita numpang pasak di tenda sebelah. Tenda sebelah masih sempat sempatnya memasak, saya harpa dan nita memilih untuk makan roti tawar dan tidur karena rasa lelah dan kantuk yang tak bisa ditolerir. Sudah berselimut jaket, sarung dan sleepingbag di dalam tenda bukan berarti sudah hangat dan bisa tidur pulas, terlebih lagi karena kaos kaki dan sarung tangan yang lembab. Tenda untuk ukuran 5 orang diisi dengan 3 orang rasanya banyak ruang yang kosong dan udara dingin berkeliaran seenaknya saja di dalam tenda. Saya benar benar tidak bisa tidur pulas malam itu, sampai tertidur dalam posisi duduk berharap kaki dan badan ini hangat tapi hasilnya nihil. Mata sudah terpejam tapi tubuh masih terjaga menikmati dinginnya ranukumbolo. Selamat malam Ranukumbolo.

Minggu, 14 Oktober 2012

Ranukumbolo – Camping Ground Ranukumbolo
Ah saya bangun terlalu siang sampai tak menikmati sunrise ranukumbolo karena baru bisa terlelap tidur beberapa jam lalu, matahari sudah mulai menghangatkan permukaan bumi dan tenda sebelah sudah mulai ramai memasak. Segera saya membasahi muka dengan air ranukumbolo, subhanallah segarnya! Melanjutkan untuk harmoni alam, sayur sop, nugget dan tempe goreng terasa sangat nikmat dinikmati dalam kebersamaan pagi itu.






Tidak bisa melanjutkan perjalanan sampai kalimati itulah kesepakatan kita bersama, kami sepakat untuk menghabiskan waktu di camping ground ranukumbolo saja karena dilihat dari beberapa faktor lain, keadaan mas kurniawan yang belom fit, bahu harpa yang masih sakit karena semalam, pertimbangan nita yang sudah mengetahui medan menuju kalimati dan sumbermani, walau berat rasanya mengikhlaskan dan meridhoi hal tersebut dan mengesampingkan ambisi dan ego masing masing namun itulah ujian dalam pendakian. 
Puncak itu bonus, kembali kerumah dengan selamat itu keberhasilannya karena mahameru adalah perjalanan fisik, mental dan hati yang butuh keikhlasan.
Dan hari itu dihabiskan untuk menikmati indahnya ranukumbolo, berbagi dengan alam sekitar dan bercengkrama dengan para pendaki lain. Hal yang tak dapat ditemukan di peradaban kota.







Senin, 15 Oktober 2012

Nikmat mana lagi yang bisa saya dustakan ketika bisa menikmati lukisanNya, sunrise ranukumbolo dan ditemani hangatnya segelas kopi. Subhanallah, benar benar gabisa dinarasikan.
Hari itu bertepatan dengan ulang taun Ibu saya “Selamat ulang tahun bu, doa dan rindu terkirim untukmu dari ranukumbolo”  Ingin rasanya telpon beliau tapi apa daya krisis sinyal di ketinggian 2400 mdpl.







Waktunya untuk aksi bersih bersih ranukumbolo, walau belum bisa ke mahameru paling tidak ada hal positif lain yang bisa kita lakukan disini walaupun ga berpengaruh banyak namun bisa menjadi batu loncatan untuk pendaki lain untuk menjaga kebersihan area sekitar ranukumbolo agar kelak anak cucu kita masih bisa menikmati tanah semeru. Bermodalkan energi dari nasi goreng dan nugget, para jejaka mulai menyisiri sampah sampah di area camp, ada yang mengambili sampah di tepian danau, sampah plastik dan juga sampah sampah botol bekas minuman. Huuuuh udah 2 karung sampah yang dikumpulkan dan besoknya siap diboyong sampai basecamp ranupani.

Salam Rindu, Anakmu.



Oro-oro ombo
Sorenya saya menikmati trek tanjakan cinta sampai padang ora ora ombo, ditengah perjalanan kami harus bergegas pulang ke tenda karena hujan, yang awalnya optimis kabut jenuh saya pun ikut berlari naik turun bukit.

Selasa, 16 Oktober 2012

Packing packing ayo kita packing! Hah rasanya belom mau meninggalkan ranukumbolo yang sakral akan keindahanya. Pecel dan teh susu menjadi energi kita untuk pulang, berbagi sarapan dan bercengkrama dengan pasangan bule dari perancis jadi topik kita pagi itu, ternyata mereka menghabiskan waktu 2  bulan mereka di Indonesia untuk menikmati keindahan alam Indoesia.

Potret pagi ranukumbolo
Mas Kur, Muchlis, Anggrek, Nita, George, Marie, Saya, Uki, Rifqy, Harpa
Keril sudah siap, pukul 9.10 kita mulai ngetrack menuju ranupani dengan bonus harpa uki dan yang lainnya gantian membawa karung sampah. Tidak butuh waktu lama untuk perjalanan pulang, cukup 4,5 jam kita sudah sampai di pos ranupani. Alhamdulillah ahirnya lihat jalanan aspal kembali, sampainya di pos kami lapor kepada Pak Ningot Sinambela telah turun dengan selamat dan menyerahkan sampah yang telah kita bawa. Beruntung ada truk terakhir, kita gabung dengan para pendaki yang lain yang akan menuju Malang dan pulang ke kotanya masing masing. Berbaur dengan kabut yang mulai naik dan ahirnya hujan turun, wah benar benar seru perjalanan pulang itu.

Ranukumbulo yang selalu membuat rindu.

Walau impian saya 5 tahun yang lalu menginjakkan kaki di Mahameru masih harus tertunda namun selalu ada teladan hidup yang bisa diambil dari perjalanan alam. Bertemu dengan orang orang baru, berbeda kepala, berbeda pikiran, berbeda karakter, berbeda cara namun satu tujuan. Mahameru akan kutempuh ragamu di lain kesempatan.